Kata Pembuka

Assalamualaikum ....^^

Rabu, 17 September 2014

I Love You, Because Allah

"Lo selalu inget Put sama kejadian yang dah belasan tahun silam...," kata Mila
"Ya, dan lo selalu lupa sama apa-apa yang udah lewat," jawabku kalem-kalem keren.


Cerita ini bermula dari senin kemarin. Mila-sobat saat masa-masa susah senang bahagia enggak ada batasan yang nyata (baca: jaman kuliah), dia datang ke rumah saya, membawa kabar duka. Ayahnya Sri --teman sekelas kami di kampus--meninggal dunia. So, tanpa pikir panjang (telepon suami dulu sih kalo mau ta'ziah, hehe), capcus lah saya n Mila ke Tanjung Barat (meski yeah, well, kayak kebiasaan yang udah-udah dibonceng Mila, dan ini beneran super enggak keren, hehe) 

Sampai Tanjung Barat, masih banyak tamu, jenazah ayahnya Sri sudah dimakamkan. Ketemu Sri dan keluarga, cupika cupiki, peluk-peluk, sambil ucapin belasungkawa. Sri alhamdulillah tabah, kondisi fisik dan psikisnya terlihat stabil. Dan di moment ini tanpa sadar kita nostalgiaan, cerita ngalor ngidul, pastinya ya itu mengulik lagi jaman-jaman susah senang bahagia enggak ada batasan yang jelas. 

Hm, dan ternyata kami sudah bersahabat dua belas tahun lamanya, didera beragam rasa, didera bermacam kesibukan. Ikrar cinta I love You because Allah yang dulu sering kami ucapkan saat bersama masih terngiang jelas,  serasa semua baru kemarin saja.

Agustus 2002, kami dipertemukan di satu ruang kelas. Ruang 315, yang kata senior waktu itu sih ruang kelas tersebut milik jurusan Geografi. Oh ..hooh lah, saya kan emang daftarnya jadi mahasiswa Geografi UNJ (bukan mahasiswa Sejarah, or yang laen, so dah pasti dikumpulinnya di kelasnya Geografi.  Di ruang itu, ketemu senior-senior yang beragam gaya, wajah, dan karakter. Dan yang terpenting adalah pertemuan dengan wajah-wajah baru satu perjuangan, duduk lesehan di bawah, tampang cupu, bau-bau SMA (termasuk saya).

Tanggal 15 Agustus 2002 tepatnya, saat briefing untuk persiapan MPA (Masa Pengenalan Akademik) ya sebenernya sih judulnya ospek... :P. Kirain sih yang namanya briefing itu paling cuma beberapa jam, enggak taunya seharian--(metong :P) penyiksaan dimulai dari jam delapan pagi sampai jam lima sore (sebel sama senior). Nah di hari itu munculah nama-nama mahluk yang cupu-cupu. Ada:  Ade siti, Ade Zaenal (Jae), Ade Setiadi (Gondrong), Dewo, Intan, Ira, Eka, Esti, Yayah, Ade Tarya (Tarjo), Akis, Sri, Ikhmah, Pati (udah almarhumah), Mae, Uswah, Atun, Nining, Rakhma, Arin, Bondan (kepala suku), Nita, Kokom, Iid, Hendra (Moncos/Monos), Denny, Hadi, Agus, Iwo, Sam, Ula, Elly, Siti, saya sendiri,  dan terakhir Miftah (masuk tanggal 16 Agustus 2002, mangkir di briefing pertama)

Selanjutnya, kami beradaptasi. Mulai dari yang sikapnya begini begitu sampai yang freak banget diliatnya. Tapi apapun itu tetap menyenangkan. Ah, dan kesenangan itu terus berlanjut, tidak hanya di bangku kuliah, di kantin, di perpus, di laboratorium alamnya geografi (kuliah lapangan) , di sekretariat BEMJ, di musholla, di kosan teman (numpang ngerjain tugas, makan plus bobo siang kalau nggak ada kuliah dan nggak ada rapat-rapat siluman ;) ) hingga di arena pendadaran (ruang sidang yang horror) 
Ya begitulah kira-kira. Selama empat tahun setengah, saya bareng mereka di satu gedung. Mahluk-mahluk cupu itu akhirnya bermetamorfosis jadi mahluk-mahluk keren berkarakter. Menapak jejak masing-masing. Satu persatu mengepakkan sayap di tempat berbeda. Kami terpisah jarak, dan ruang.

Kembali lagi ke Mila dan Sri. Dan saat-saat saya menukil kenangan bersama mereka, menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi kami. Bahkan sesuatu yang dulunya terasa pahit pun tetap menarik untuk diceritakan dan dinikmati. 

Hingga Mila mengatakan, "Lo selalu ingat apa yang pernah terjadi Putse,"
Sri hanya tersenyum genit, dan langsung saya tegaskan, "Ya dong, dan lo selalu lupa sama apa yang udah lewat, tapi kalau gue ungkap gini lo jadi inget lagi kan?" jawabku kalem-kalem keren.

Dan asal kalian tahu saja, cerita ini akan menarik untuk dibukukan, "Mahluk-mahluk Manis di Ruang 315."

--------karena kalian begitu berharga. Love you because Allah....itu yang sering kami ucapkan disela-sela kebersamaan kami-------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 10 Juli 2014

Sepenggal Doa Untukmu

 Allahummasurna ikhwana wal mujahidina fii filistin (Ya Allah, berilah pertolongan kepada saudara-saudara dan para mujahid di Palestina)

Sepenggal doa untuk saudara-saudara kita di Palestina. Jauh, ribuan kilometer dari tempat kita berada, yang bahkan kita juga tak mengenal mereka, mereka pun begitu. Namun, tali aqidah tak bisa putus hanya karena tersekat geografis. Mereka diberi "kenikmatan" kala Ramadhan. Allah memanggil jiwa-jiwa suci untuk bercengkrama dengan para bidadari. Meski begitu rasanya secara kasat mata diri ini tak rela melihat tubuh tercabik-cabik oleh dentuman-dentuman dan kebiadaban Israel laknatullah. Ya, meski kita semua tahu bahwa perang ini adalah perang terlama sepanjang kehidupan, hingga Allah menetapkan takdirnya dengan sebuah kemenangan untuk kibaran bendera Islam di sana. Tetapi, bukan berarti kita menutup mata begitu saja, lantas mengatakan bahwa di sana ya di sana, dan di sini, kita urusi saja yang di sini (di tanah air permasalahan yang masih banyak), sungguh tidak demikian sahabat. Di manapun berada, mereka saudara kita satu aqidah. Bahkan orang-orang non muslim pun sekarang tengah berbondong-bondong melakukan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Semata karena tidak tahan dengan kebiadaban yang ada di sana. 

Palestina, Masjidil Aqsa, kiblat umat Islam yang pertama, tempat yang diberkahi. Masjidil Aqsa, salah satu tempat Isra dan Mi'raj. Tempat bersejarah dan bernilai untuk seluruh umat Islam (sekali lagi Islam, tanpa pengecualian, bukan golongan A,B, atau C, tapi umat Islam keseluruhan). Maka inilah salah satu alasan kita tetap mendukung dan membela mereka. Meski hanya sepenggal doa tadi. Meski rasanya saya sendiri malu mendoakan mereka, sementara diri ini berlumuran dosa. Sementara juga, mereka yang didoakan jelas-jelas terjamin surga, jelas-jelas para kekasih Allah. Untung saja tidak ada syarat macam-macam untuk mendoakan sesama saudara, untung saja Alllah tidak membatas-batasi doa yang melayang ke langit. Syaratnya satu, cukup Ikhlas. Palestina, masalah kita bersama, di sana tengah kembali terluka. 

Akhir kata, pesan dari founding father negara kita :

"Selama kemerdekaan bangsa Palestina beleom diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itoelah Bangsa Indonesia berdiri menantang Pendjadjahan Israel"
(Ir. Soekarno-1962)


Allahualambishowab..

Sabtu, 05 Juli 2014

Racauan Jelang 9 Juli

Hari-hari jelang 9 Juli 2014. Hari dimana warga negara Indonesia memilih pemimpin mereka. Awalnya saya sangat-sangat tidak peduli dengan apa yang terjadi. Berusaha menutup mata dan telinga dengan segala isu yang beredar di luar sana. Ah, bukan kah ini sejenis ritual lima tahunan? Siapapun yang akan menjadi pemimpin sepertinya akan sulit memberikan perubahan signifikan pada negara ini. Sorak-sorai acara debat yang terus diperbincangkan, mulai di warung kopi, warung nasi, bahkan mungkin di warung remang-remang. Mulai di pangkalan truk, pangkalan bus, pangkalan udara, pangkalan ojek, hingga di pangkalan militer (tentunya kasak-kusuk--sebab itu zona netral). Tak pelak, pembicaraan pun ramai di seluruh media, hingga media sosial. Semua orang di negara ini mendadak berubah bak pengamat politik, pun mendadak menjadi politisi praktis. 

Ya, semua ini lumrah, sebab suhu perpolitikan di bumi pertiwi sedang memanas. Hingga ada seorang kawan yang dengan gemas mengatakan ini urusan ideologis! Para pendukung yang saling mengejek capres sebelah, memberikan sebuah paparan yang entah fakta, data, atau isu. Entah, semua ini sama sekali tak bisa saya ketahui. Tapi yang jelas, kampanye hitam dan abu-abu bertebaran di negara yang katanya memiliki nilai toleransi yang tinggi. Ketidakberadaban ternyata ada di tengah ideologi Pancasila yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab"

Ah, andai-andai para perumus-perumus ideologi bangsa ini melihat di langit sana (Ir. Soekarno, Muh Yamin, dan Soepomo) mereka pasti menangis. Sebab ternyata berpeluh-peluh orang-orang hebat ini menghasilkan sesuatu yang besar untuk bangsa ini ternyata hanya terpakai sebatas di bangku sekolahan saja. Nyatanya bagaimana dalam implementasi sehari-hari?

Tuh kan, saya juga mendadak jadi sok pengamat ideologis begini, sok Pancasilais, padahal bisa jadi saya juga tak terlalu paham benar dengan apa itu ideologi negara yang dirumuskan oleh Ir Soekarno dkk. Bukan saya skeptis, sinis, apatis, apalagi anarkis, Tulisan ini hanya sekedar peramai suasana, pemanas, tim hore, meski entah siapa yang saya berikan tepukan tangan. Tunggu tanggal 9 Juli 2014, akan seramai dan semeriah apa pesta demokrasi di negeri ini?????

(Allahulambishowab)

Jumat, 06 Juni 2014

Untuk Yang Spesial

Kemarin hari lingkungan hidup, iya aku tahu pasti. Sejak aku kuliah di jurusan Geografi yang memang bersinggungan dengan lingkungan pun tahu kalau tanggal 5 Juni itu hari lingkungan hidup dunia.
Aku juga tahu kalau sehari setelahnya--atau lebih tepatnya hari ini-- adalah hari lahir kepala negara pertama di Indonesia, salah satu orang yang berpengaruh di mata dunia, cerdas pemikirannya, tegas setiap titahnya, dan tinggi kehormatannya. Orang yang menjadikan bangsa ini memiliki martabat di mata dunia. Putra Sang Fajar, begitu aku senang menyebutnya--sebenarnya sih mengutip judul buku tentang perjalanan hidup beliau. Ir. Soekarno, yang terlahir pada hari ini tanggal 6 Juni 1901. 

Tapi sekarang, aku tahu lagi, bahwa ada seseorang yang lahir di tanggal yang sama dengan tahun yang berbeda. Orang yang belum lama aku kenal, tapi sudah lamaaaa kutahu (mungkin terpinggirkan sejenak, atau memang belum saatnya kenal lebih dekat--ah aku tak perlu tahu apa bedanya) yang pasti, orang tersebut spesial bagiku.

Dan aku tak perlu berpanjang-panjang kata untuk menjelaskan bahwa dia begitu spesial. Cukup dengan kalimat "dia begitu spesial bagiku" dan hari ini, kukatakan juga, "selamat hari lahir untukmu yang spesial buatku. Semoga segala ego absolutmu tercapai. Makin-makin-makin, hingga yang kau inginkan ada dalam genggamanmu."

Oh iya, semoga tetap hijau dalam aktivitasmu. Dan semoga....apa yang kita cita-citakan semakin dimudahkan. Sayangnya, karena kini kita masih berjarak, maka tak ada omelet, pisang keju, puding coklat, atau apapun di tanggal ini, baru tulisan ini saja sebagai tanda, aku ingat...ingat hari lahirmu ini. 

Met Millad Ai...semoga usianya makin diberkahi....aamiin ;)

Senin, 21 April 2014

Perempuan yang tak Sekedar Perempuan

Hi..Ladies..

Ini bukan sekedar iseng catatan pagi hari, tapi ini catatan tentang betapa beruntungnya kita yang terlahir menjadi seorang perempuan. Lho kok?

Waktu masih duduk di sekolah dasar sekitar kelas 5 SD saya sudah mengidolakan Benazir Butto, kenapa dia? Ah entahlah saya lupa, mungkin memang karena sering mendengar beritanya di televisi. Tapi yang saya tahu saat itu karena beliau adalah perempuan, perdana mentri, berani, bahkan saat mengalami peristiwa penembakan. Itu saja. Selanjutnya saya tidak mengidolakan siapa-siapa (sosok perempuan). Yang saya tahu bahwa perempuan itu bisa juga bermain di mata dunia. 

Perempuan-perempuan di mata dunia. Yups, begitu banyak para pemimpin dunia yang hebat, besar, berwibawa, garang, tapi akhirnya hanya menjadi anak ayam di pangukuan wanita. Lihat saja Cleopatra yang menjadikan Julius Caesar menjadi bukan siapa-siapa di matanya, Marie Antoinette yang menjadi penyebab tergiringnya Raja Louis XIII ke guillotine (termasuk dirinya). Imelda Marcos si kupu-kupu besi juga penyebab tergulingnya pemerintahan Ferdinant Marcos. Dan masih ada nama-nama perempuan yang sukses menaklukkan para penguasa, sekaligus mengakhiri kehidupan mereka dengan tragis. 

Meski ada sederet nama besar (yang masih didominasi wanita) Hellen Keller yang besar dan hebat, meski dalam keadaan kekurangan, beserta gurunya Anne Sulivan. Ada juga Marie Svodoska Currie peraih nobel yang mengidap kanker akibat temuan yang dihasilkan. Margareth Teacher si tangan besi. Juga masih banyak sederet nama yang banyak tidak saya tahu (keterbatasan ingatan dan pengetahuan saya hehe)

Tak kalah hebat sederet nama besar, tapi bersahaja, dan dirindukan surga. Ada si cerdas Aisyah r.a, penghapal hadist, pemegang panji-panji saat perang, dengan wajah merah merona yang beruntung terlahir menjadi pendamping hidup seorang pria besar pilihan Allah. Ada juga Fatimah r.a, perempuan cerdas, terjaga semua yang ia miliki, bahkan disinyalir setan saja tak tahu apa isi hatinya hingga nafsunya pun terjaga. Masih ada Asma binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar bin Khatab, dan pejuang tangguh Summayah. Dan jauh sebelum mereka memulai perjuangan untuk Islam, ada wanita cantik, kaya raya, yang merelakan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam, Khadijah, istri pertama dan utama Baginda besar Muhammad SAW. Masih banyak juga sederet-deret nama-nama perempuan hebat dalam sejarah Islam dan dunia. 

Indonesia perlu bangga, untuk apa menundukkan wajah, bukankah Indonesia memiliki seorang perempuan bersahaja, memperjuangkan perempuan agar menjadi cerdas (bukan orang kedua), tidak hanya pandai mengurus keperluan keluarga, tapi juga mengembangkan wawasan dan mengisi otak bukan hanya sekedar dan ala kadarnya. Mampu menyuarakan apa yang ingin ia katakan melalui tulisan, dan dapat mensejajarkan dirinya dengan para perempuan-perempuan dunia. Terlahir dari keluarga ningrat tapi tidak keningratan, dialah RA Kartini. 

Kesetaraan dengan pria, bukan berarti menjadi setara dan ingin sama dalam segala hal, jelas bukan itu yang beliau mau. Tapi kesetaraan yang memang ada batasan dan sesuai koridor. Toh pada intinya perempuan itu tidak akan menjadi kaum marginal atau termarginalkan apabila dia selalu mengimbangi dirinya dengan pengetahuan dan keimanan. Hingga sekarang saya ulangi lagi, saya bangga menjadi perempuan, saya bangga memiliki tokoh perempuan sekelas RA Kartini yang mendunia, saya bangga memiliki panutan seperti Aisyah r.a, dan pastinya saya bangga memiliki perempuan yang setiap hari saya lihat perjuangannya dan cinta kasih dan pengabdian tak terhingga pada keluarga, sst...wanita terakhir itu adalah Ibu saya sendiri, ya...itupun berlaku untuk Ibu kalian semua.

Selamat hari Kartini, hari ini bukan masalah bias gender, feminisme atau apalah, tapi hari ini sekedar pengingat, bahwa dunia juga perlu tahu, Indonesia memiliki seorang sekelas Kartini. Dan kita wajib merasa beruntung menjadi perempuan, karena semua pengabdian dan perjuangan kita tak akan ada yang percuma di hadapanNya, semua menjadi nilai tersendiri. Perempuan yang bukan sekedar perempuan.

Kamis, 10 April 2014

Pesta Demokrasi Usai, Mari Lanjutkan Perdebatan ^^



Jadi begini, siang ini saya super ngantuk, karena kerjaan yang bikin sakit mata tak kunjung selesai, lalu saya memutuskan break untuk membuat tulisan ini. Well, cuma sebentar…sebentar saja, dan jika tulisan ini tidak mengenakkan mohon tidak sampai kebakaran jenggot, eeh,…maaf, maksudnya tidak sampai panas kepala, hati, atau panas yang lain, mendingan makan soto atau apalah yang panas-panas hehe..Jadi begini, pesta demokrasi baru usai, pastinya akan dilanjut untuk demokrasi dalam memilih yang lain. Semua media ramai membahas partai andalan masing-masing. Pembahasan juga bukan usai pesta demokrasi, tapi sebelumnya juga dibahas-bahas. Kampanye via media apapun yang dimiliki, sampai media sosial juga ikut ramai.
Fine, sah-sah saja sih, mengkampanyekan partai andalan masing-masing. Sah-sah saja jualan kecap, mana ada kecap no 2 pasti semua mengakui kecap no 1. Tapi lagi-lagi dari awal saya perhatikan, urusan kampanye-mengkampanyekan partai andalan, malah jadi terjerembab pada hal-hal yang bersifat menjatuhkan. Parahnya lagi, siapa menjatuhkan siapa? yang didukung siapa yang “perang urat syaraf” di media siapa.
Dengan alih-alih diskusi, buka wawasan, tukar pikiran, tapi tetap saja judulnya debat kusir. Nah, nah, nah… lalu saya bertanya (ga usah jawab-saya enggak mau dijawab)  :D yup, saya bertanya, apa fungsi pertemanan di media sosial jika masih diwarnai perang urat syaraf? yang satu mengatasnamakan figur, demokrasi, ada juga yang mengatasnamakan agama. Ehm, sebab kalau agama yang saya anut, ada “warning” untuk menghindar dari perdebatan yang tidak perlu, apalagi sampai saling menjatuhkan, kecuali jika agama yang jelas-jelas dihinakan, maka wajib kita membela. Lantas kalau masalah pesta demokrasi yang kita juga tak merasakan dampak postif yang terlalu serius??
So,so,so, sebagai warga negara yang tertera di pelajaran PPKN, saya tetap menggunakan hak pilih saya. Tidak apatis, tidak juga berlebihan, cukup hanya sampai tataran ikut merayakan, tanpa ikut-ikutan yang lainnya. Tapi sepertinya sekarang saya malah yang sok ikut-ikutan nyempulung-geregetan dalam mengomentari perilaku-perilaku yang saya sebut diatas nih? Ah, tak usah tersinggung atau marah, anggap saja tulisan ini hanya sekedar racauan belaka …

Semangat siang sahabat ^^

Jumat, 04 April 2014

Tanya Cerita Malam


kau bertanya lagi seberapa menariknya dirimu
aku jadi meracau kalau harus menjelaskan satu persatu
bukannya kau tak punya cedera
aku pun banyak punya cela

malam masih kita lanjutkan cerita demi cerita
ketika bintang ataupun tatkala rinai hujan
ketika pendaran cahaya bulan ataupun geladak halilintar

malam...
kau selalu mempertanyakan...
bisakah ....?
bisa...jawabku...
entah mengapa aku begitu yakin
sebab jika kau bertanya lagi, aku yang akan lebih ingin bertanya macam-macam
terselimuti ketidakpercayaan karena cela yang kumiliki

malam...
kuingin kau tahu
sepanjang aku bertemu dengan banyak cerita usang
kaulah yang termenarik yang pernah kutahu
jariku melukis sesuatu
merajut mimpi ataukah aku yang terlalu pagi mengimajinasi
hingga malam...
yakinlah pagi kan menjelang dan akan mengalami malam lagi..bersamamu...
ai ...kita lanjutkan ceritanya ....