Selasa, 17 Januari 2017

Manifestasi Syukur

Bismillah...semoga tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan kelak...

Saya tidak sedang berkhutbah atau ceramah, juga bukan menyeru, berdakwah atau apapun yang sifatnya begitu ke Rabbaniahan. Saya hanya sedang teringat sesuatu yang ingin saya bagi dalam bentuk tulisan yang begitu sederhana. Tulisan, ya, karena ini adalah salah satu potensi yang Allah berikan kepada saya, maka saya merasa memiliki kewajiban mewujudkannya menjadi tulisan utuh, sebab inilah salah satu manifestasi syukur saya kepada Sang Pemberi Potensi.

Ingatan saya melayang saat masih sekolah. Pada awal tahun ajaran baru, hari pertama masuk, beberapa guru bercerita mengenai perdebatan panjang sebelum rapot dibagikan, membahas siapa saja yang pantas naik kelas dan yang tidak. Dan di hari pertama ajaran baru, si murid yang mati-matian diperdebatkan apakah dia dapat naik kelas atau tidak pun terselamatkan. Duduk manis di tingkat yang lebih tinggi, murid yang semula terancam tidak naik kelas kini pun terbawa menjadi naik kelas. Kemudian si guru menanyakan bagaimana perasaannya, si murid malu-malu menjawab, "senang Bu / Pak", katanya. Tidak puas dengan jawaban si murid, guru masih mengejar, senang bagaimana? bersyukur apa tidak ?" cecar guru. Si murid masih dengan malu-malu mengatakan bahwa dirinya bersyukur. "Terus apa bukti dari syukur?" cecar guru lagi. Kali ini si murid diam, cengengesan. 

Ilustrasi itu yang beberapa kali kerap saya dapati saat sekolah, pun saat saja mengajar di salah satu sekolah, maka hal tersebut yang jadi bahan pembicaraan rekan-rekan guru di kantor, mengatakan mestinya si calon tidak naik kelas itu bersyukur. Dan yang menjadi pertanyaannya di kepala saya dan begitu menggelitik adalah, bersyukurnya dengan cara bagaimana?

Iya, kita semua dapat menjawab, bahwa cara bersyukur murid itu adalah dengan rajin belajar, lebih patuh pada guru, lebih santun, lebih rajin, dan lebih dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Lantas bagaimana dengan kita, mahluk yang di muka bumi yang segala rupa diberikan nikmat oleh Sang Pencipta?

Allah memberi nikmat kita beragam rupa. Bahkan sakit pun sebuah kenikmatan yang patut disyukuri, sebab segala kejadian memberi hikmah. Ini pertanyaan dan pernyataan berat bagi saya. Saya sudah 32 tahun sebagai penduduk muka bumi, diberi kesempatan bernafas, melihat, mendengar, berucap, merasa, dan banyak lagi, yang bahkan banyaknya tak dapat ditulis dengan tinta seluruh samudra, namun sedkit sekali saya bersyukur, entahlah, sisanya biasanya saya gunakan untuk berkeluh kesah, menyalahkan keadaan, nasib, orang lain, dan semua yang akhirnya berujung pada kekufuran, naudzubillah...

":"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu, tetapi jika  kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S Ibrahim ayat 7).

Saya bukan ahli agama, tapi jika merujuk pada kejadian murid yang tidak naik kelas tadi (pada kisah di atas) maka saya yang awam agama sedikit menaut-nautkan, bahwa perwujudan syukur bukan berarti mengucap alhamdulillah lantas menerima semua yang ada, namun bisa jadi mengucap alhamdulillah disertai dengan bagaimana kita mewujudkan pemujaan kepada Sang Pencipta dalam bentuk perbuatan nyata. Maka mutlak jawabannya adalah taat kepada PerintahNya dan menjauhi laranganNya, di samping memanfaatkan pemberian dengan seoptimal mungkin yang kita bisa. Menjadikan pemberiannya sebagai modal dasar untuk lebih memiliki karya nyata yang kelak akan kita perlihatkan di kampung akhirat.


Menurut hemat saja, dan jika boleh saya menganalogikan, semua yang kita nikmati di muka bumi ini adalah modal-modal yang Allah berikan kepada kita untuk dapat lebih menunduk kepadaNya. Untuk mendapatkan karunia yang lain agar kehidupan semakin berkah, mendapat rahmat, dan mudah. Ketika harta dan tahta sudah tak lagi menjadi penolong di kemudian hari, maka hanya rahmat Allah yang sungguh kita harapkan. Rahmat dan keberkahan yang kita pinta, tentunya atas dasar syukur tadi. Bersukur, kunci keberkahan, bersyukur kunci rahmat Allah datang, bersyukur kunci pertolongan Allah tiba. Bersyukur menjadikan kita lebih bersemangat menjalani hari, meraup keberkahan, mengoptimalkan potensi, melakukan karya nyata. Bersyukur tidak sama dengan menerima yang ada segitu-gitu saja. Bersyukur sama dengan bergerak, bergerak karena Allah sudah memberikan tubuh, akal, dan hati yang harus dioptimalkan. Bersyukur menjadikan manusia lebih mulia di hadapan RabbNya, bersyukur salah satu jalan masuknya ke surga. Dan semoga kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa bersyukur dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang telah Allah beri.

Allahualambishowab. Putse-Sragen, 21.37 WIB -- 17/01/17
Catatan Pengingat diri.

Kamis, 12 Januari 2017

Orang Miskin Dilarang Banyak Bicara !



Orang miskin dilarang banyak bicara!  
Ya yang miskin-miskin dilarang banyak bicara, kalau yang kaya terserah dia mau bicara seperti apa juga sah-sah saja. Orang miskin sebaiknya lebih banyak diam, sebab khawatir perkataannya hanya akan membuatnya semakin terlihat sangat miskin. Percuma orang miskin banyak bicara, toh kemungkinan terbesar tidak akan didengar oleh mereka, si kaya.
Orang yang miskin harta, untuk apa banyak bicara? Melebih-lebihkan perkataan, melebih-lebihkan apa yang hanya sedikit ia punya, atau bahkan mengada-ada yang tidak ada. Orang kaya tidak akan berperilaku seperti itu, sebab semua sudah tampak. Orang miskin bicara justru akan menunjukkan yang tak ada, dan menjatuhkan harga dirinya. Lalu apakah harta dapat menjadi sebuah kebanggan jika pada hulu dan muaranya adalah yang Maha Kaya?
Orang yang miskin ilmu, dilarang banyak bicara, sebab perkataannya bisa mengarah kepada dusta dan mengada-ada, disertai bumbu-bumbu yang tidak ia pahami ramuannya dengan baik. Si miskin ilmu semakin banyak bicara semakin terasa lebih seperti genderang kosong yang ditabuh, terdengar membahana, namun sama sekali tidak berisi. Sementara si kaya ilmu bicara hanya pada saat benar-benar dibutuhkan. Perilakunya semakin tunduk bak padi yang akan menetas. Si kaya ilmu tidak akan banyak bicara untuk suatu yang sia-sia, namun ia langsung memberi manfaat kepada sesama.
Orang yang miskin hati, sangat dilarang banyak bicara, sebab omongannya hanya akan mengarah pada kesombongan dan keangkuhan. Si miskin hati tak akan pernah peduli pada sesama, terlebih peduli apakah perkataannya akan menyakiti atau tidak. IA tidak akan memilah dan menyaring perkataan dan perbuatan. Seolah ia mengatakan bahwa itu fakta, namun tidak semua fakta patut dibeberkan secara langsung jika itu hanya akan membuat goresan luka. Sementara si kaya hati akan selalu memandang jernih sebuah permasalahan. Ia berlapang dada tehadap apa yang ia rasakan, ia akan sedikit bicara, atau bahkan lebih banyak diam, karena hatinya hidup. Hidup dengan kalimat illahi yang akan senantiasa melindungi lisannya untuk bicara yang tak manfaat, atau bahkan sia-sia dan menyakitkan.
Orang yang miskin motivasi juga tak usah banyak bicara. Karena bicaranya hanya akan mengarah pada khayalan dan angan-angan. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu jarang dibarengi dengan sikap dan tindakan nyata. Si miskin motivasi hanya akan terus berangan-angan, mengkhayal, dan pada saatnya ia tak mendapatkan sesuatu maka keadaan lah yang akan ia salahkan. Sementara orang yang kaya motivasi akan terus bertindak tanpa banyak bicara, langkahnya nyata. Sedikit bicara untuk memotivasi diri, selebihnya adalah upaya atau ikhtiar yang dibarengi dengan doa.
Ya, sejatinya kita miskin. Apa yang kita miliki ini hanya sebagian kecil saja dari apa yang Dia miliki. Allah lah Pemilik semua kekayaan di langit dan di bumi. Allah lah Pemilik semua ilmu yang ada di seluruh jagad raya dan nirwana. Allah lah Penggenggam hati dan pembolak-balik siapa yang ia kehendaki. Pemberi hidayah siapa yang Dia inginkan. Maka tak perlu berbangga hati bahwa memiliki kebaikan hati, sejatinya Allah yang menggerakkan semua hati seluruh mahluknya. Allah lah yang Maha mengetahui setiap keinginan dan cita-cita hambaNya. Dan dengan ridhoNya Allah mudahkan jalan menuju apa-apa yang telah diusahakan hamba-hambaNya untuk meraih kesuksesan. Maka tak perlu banyak bicara bahwa kita apa yang kita usahakan adalah murni jernih payah kita, tak perlu bangga dengan otak cemerlang, tak perlu merasa hebat dengan menjadi motivator nomor wahid, tak perlu merasa sudah menjadi orang baik. Yang diperlukan adalah semakin hari, semakin meningkatkan kualitas diri, dan tetap merasa rendah di hadapanNya. Sebab untuk apa banyak bicara, sementara kita dilahirkan saja tak bisa apa-apa, kecuali hanya menangis saja. Begitu juga kelak saat kita kembali pun sama sekali dalam keadaan tak dapat apa-apa.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam…. (HR. Bukhari dan muslim)”
Semoga Allah menguatkan kita untuk senantiasa memperbaiki diri dan berkata yang baik atau menahan perkataan yang tak manfaat. Dan tak memperpanjang kata, saya yang miskin ini tidak berani banyak bicara. Allahualambishowab.

Catatan Pengingat Diri
Putse—Sragen—12.01.2017
21.38 WIB

Rabu, 11 Januari 2017

Pilih Wanita Karier atau Ibu Rumah Tangga?



Wanita karier versus ibu rumah tangga, adalah salah satu obrolan panjang episode keluarga selain poligami, hehe. Ini dimulai dari sebuah diskusi atau anggaplah rumpian wanita seputar perlunya bekerja. Tapi saya tidak akan menceritakan rumpian tersebut, hanya secara garis besar saya tergelitik untuk menjadikan sebuah tulisan.
Sungguh tak ada yang salah bagi wanita yang bekerja a.k.a wanita karier, dalam Alquran pun tidak ada larangan wanita untuk bekerja, yang ada adalah larangan untuk berdandan seperti wanita jahiliyah, dan perintah menutup aurat. Jadi bukanlah sebuah aib jika wanita bekerja dan berkarier selama ada izin dan restu dari suami. Utamanya memang suami yang mencari nafkah untuk keluarga, tetapi jika umat membutuhkan sumbangsih tenaga dan pikiran dari kaum wanita, maka akan menjadi berkah tersendiri bagi kehidupannya. Bayangkan saja apa yang terjadi jika semua dokter pria, tak ada bidan, tak ada guru wanita, dan beberapa profesi yang membutuhkan wanita, padahal penduduk bumi saat ini didominasi kaum wanita.
Secara kodrati wanita memang di rumah, mengurus anak dan mendididiknya agar menjadi bibit-bibit unggul dan pria yang bertanggung jawab atas kebutuhan dan keperluan rumah tangga, tapi lagi-lagi sungguh tidak salah jika salah satu niat wanita bekerja, selain mengamalkan ilmu yang ia miliki, namun juga membantu suami untuk mencari rupiah demi kesejahteraan keluarga dengan ikhlas dan atas ridho suami. Bahu membahu dalam proses perbaikan perekonomian keluarga. Selama kepentingan anak dan keluarga tidak menjadi korban. Korban atas materialisnya wanita pekerja yang akhirnya melupakan niat dan tujuan awalnya.
“Sungguh di antara dosa yang tidak bisa ditebus dengan pahala shalat, sedekah, atau haji, maka bisa ditebus dengan kesusahpayahan mencari nafkah (HR. Ath Tabhrani)”
Maka bekerja adalah berpahala, bekerja adalah penghapus dosa, bekerja menjadikan diri semakin berarti, bekerja adalah mulia, maka bekerja adalah manisfestasi dari rasa syukur kepada Rabbnya atas potensi yang telah diberikan. Dan sungguh tak ada yang salah jika wanita bekerja selama ia bertanggung jawab atas kodratnya sebagai ibu dan istri.
Demikian pula dengan Ibu Rumah Tangga. Dan bukahlah sebuah aib jika seorang wanita hanya di rumah saja sebagai Ibu Rumah Tangga. Ibu rumah tangga yang tak ada jeda dalam bekerja. Yang bahkan saat malam hari di kala manusia istirahat dia masih menggunakannya untuk melakukan segambreng aktivitas rumah tangga yang tiada henti. Beberapa wanita mengeluhkan betapa bosan dan penatnya saat ia melakukan aktivitas rumah yang itu-itu saja tanpa ada selingan-selingan pereda penat. Ada beberapa wanita yang pernah mengeluhkan kepada saya, bahwa sepertinya ia tidak berdaya guna, hanya di rumah, menerima uang bulanan dari suami tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun, sudah menjadi janji Allah, jika Allah akan mencukupkan kebutuhan setiap mahluknya. Jika memang Allah menghendaki keadaan kita yang demikian, maka itulah yang terjadi. Ibu rumah tangga pun tetap mulia, ia mengorbankan waktu istirahat untuk pekerjaan yang tiada usai. Ibu rumah tangga memiliki waktu lebih untuk mengurus, mendidik, serta menjadikan sang buah hati menjadi insan utama. Ibu rumah tangga, tetap dapat mengaktualisasikan diri dengan potensi yang ia miliki meski hanya berada di dalam rumah. Ibu rumah tangga pun bisa menjemput rizki Allah walau di rumah. Ibu rumah tangga punya tambahan waktu dhuha untuk bermunajat kepada Allah agar suami dilimpahkan rizki yang halal dan berkah. Ibu rumah tangga tetap bisa berdaya guna, meski urusan sehari-harinya adalah dapur, sumur, dan kasur. Ibu rumah tangga juga dapat menciptakan surga bagi suami dan anak-anaknya. Ibu rumah tangga adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu rumah tangga kedudukannya tetap mulia di mata Allah SWT.
Kembali lagi, seorang wanita apapun statusnya maka yang perlu digarisbawahi adalah tetap menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama. Kemuliaan bukan diiukur dari apakah dia wanita karier atau bukan, kemuliaan diukur dari seberapa besar manfaat yang telah diberikan selama Allah memberi jatah kehidupan baginya.
Wanita adalah perhiasan, Mom’s sebaik-baik wanita adalah yang menjadi istri sholehah bagi suaminya. Menjaga harta, dan kehormatan suami, menjadikan anak-anaknya sebagai generasi Robbani, bukan generasi yang hilang. Mom’s laa tahzan, apapun yang dirasakan inilah episode kehidupan, Allah sebaik-baik tempat mengembalikan semua urusan. Wanita karier menjadi maanfaat bagi umat, Ibu rumah tangga pun tetap berdaya guna bagi umat, anak, bagian dari umat, yang akan membuat merah-hitamnya peradaban.
Wallahualambishowab
Catatan pengingat diri – putse, 11-01-2017—Sragen---21.05

Sabtu, 12 November 2016

Sebab Cinta, Kisah Tiada Berjeda

Bismillah..semoga bisa menjadi manfaat.

Ini masih tentang cinta
Sebab cinta kisah tiada berjeda
Demi masa
Ketika Sang Pencipta memercikkan cinta
Maka Dialah muara dan pangkal dari segala urusan cinta


Sahabat, beberapa hari yang lalu, ada seorang saudari mengirim pesan singkat di WA, dia mempertanyakan apa itu cinta yang dikarenakan Allah, sebab ia takut jika terjebak pada cinta yang sesaat. Saya diam sesaat, sungguh saya sangat minim ilmu, dan perlu berhati-hati menjelaskan kepadanya, pun saat saya memutuskan menuliskan ini dan dibagi pada area publik, semoga apa yang saya paparkan tidak keliru. Demi memuaskan dahaga dan membantu meringankan kekhawatirannya, maka saya jawab seperti ini : Jika ada kedua anak manusia saling jatuh cinta, maka bingkailah taqwa kepada Allah, yaitu dengan jalan MENIKAH. Pria yang baik, ketika ia mencintai seorang gadis maka ia akan mempertanggungjawabkan melalui ijab qabul.Simpel kan Sist?  
Setelah itu tidak ada sanggahan atau pertanyaan dari penjelasan saya yang terburu-buru tersebut, hanya kemudian dia mempertanyakan bahwa jika menikah, dia khawatir jika ternyata dia salah pilih. Lagi-lagi hanya saya jawab dengan singkat : Solat istikharoh untuk mencari kemantapan hati.
Setelah itu saya jadi berpikir, kembali membongkar jawaban saya, menyusun ulang, dan mengingat bagaimana saat Sang Pemilik Cinta menyapa saya dengan cintanya. Bahwa memang urusan cinta adalah urusan hati, urusan perasaan, begitu sensitif, namun sering diperbincangkan. Bahwa cinta itu bisa mengubah apa dan siapa saja. Namun untuk urusan hubungan pria dan wanita, Allah mengaturnya dengan sedemikian indah dalam Alquran. Pernikahan menjadi bingkai dari sebuah cinta yang hadir kepada anak manusia. Sebab Allah sungguh Maha Mengetahui, bahwa manusia begitu lemah mengendalikan nafsu syahwat si penyebab cinta sesat, maka hanya dengan pernikahanlah cinta dapat tersemai dengan baik, Pernikahan yang dilandasi ketaatan kepadaNya. Maka nafsu muthmainnah menjadi pengawal kedua insan tersebut sehingga tak terperosok kepada perzinahan.

Namun apa yang terjadi tatkala cinta hanya dirasakan oleh satu pihak? dengan tegas saya katakan itu bukan cinta, sungguh itu bukan cinta, rasa yang bercokol dalam hati hanyalah sebuah ujian kepada anak manusia seberapa besar dia menggantungkan urusan dan mengembalikan akar permasalahan kepada Sang Pemilik jiwa. Lantas, jika memang bukan cinta, maka ia tak patut ditunggu, apalagi dipertahankan, bersabarlah dalam doa-doa panjang yang sedikit rumit dan melangit. Ketuk pintu langit dengan sedikit rintihan dan air mata di atas sajadah, mintalah sebuah jawaban dari kerisauan hati dan godaan syahwat dunia. Ketika Allah sudah ridho kepada seorang hamba, maka ajaib, semua akan dengan mudah kita lalui. Dan cinta yang dicari pun ditemui. Sebab sudah menjadi sebuah ketetapannya bahwa manusia akan berpasangan dengan jenisnya sendiri, dan mereka akan tentram bersamanya." Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Arrum ayat 21) Dan ketetapannya inilah yang mesti kita gigit baik-baik, tiada menjadikan kita berduka tatkala cinta yang kita pinta tak kunjung menghampiri. Sayangnya, kita tidak terlalu pandai saat ujian melanda, begitu juga saya yang pernah merasakan hal ini, maka hari-hari menjadi berat. Dan ketika semua beban seolah menekan pundak, sehingga tubuh ringkih ini tak lagi mampu menahannya, kuatkanlah dengan keyakinan kepadaNya.

Sahabat, urusan cinta memang urusan rumit, cinta bukanlah sesuatu yang bisa disepelakan, sebab lagi-lagi, hanya karena urusan cinta, dapat mengubah apa dan siapa yang menghinggapinya. Dan seperti nasehat dari seorang teman, jika kita menapaki sebuah duri yang tajam saat kita merasakan cinta, yakinlah bahwa itu bukan cinta. Sebab cinta yang bermuara dan berujung pangkal kepada Allah bukanlah cinta yang menyakitkan, melainkan cinta yang menentramkan, cinta yang selalu menghadirkan rasa kasih dan sayang, cinta yang menularkan kebaikan, saling memberi manfaat, bukan untuk berdua, namun untuk semua yang ada di sekitarnya. Dan alam pun ikut bersuka cita, merasakan cinta dari pasangan yang saling mencintai disebabkan percikkan cinta yang terbingkai taqwa kepadaNya.

Allahualambishowab...
Dan karena cinta, saya menuliskan ini.

Putse - Sragen, 12/11/2016 10.06 pm

Rabu, 12 Oktober 2016

Coklat Itu..Hmmmm Personal



Bicara tentang coklat, maka bicara tentang sebuah rasa yang begitu personal.
 Coklat atau Theobroma cacao adalah sebuah hidangan istimewa para dewa, begitu suku Aztek menyebutkan. Ya, karena memang secara geografis persebaran kakao awal mula di sepanjang Hutan Amazone hingga Amerika Tengah. Maka awal mula yang mengkonsumsi minuman pahit ini adalah suku Maya dan Aztec. Begitu personalnya coklat pun menjadi semacam hidangan sebagai simbol ucapan terima kasih, perhatian, dan cinta, kebiasaan mengkonsumsi coklat di Eropa baru terjadi pada awal abad ke 17, juga sebagai hidangan elite para bangsawan dan raja-raja dan merupakan pemberian istimewa yang diperuntukkan kepada yang istimewa.
Well, itu sekelumit sejarah coklat yang saya tangkap dari hasil penelusuran pada mesin cari internet. Apa pasal? Entah karena penasaran, atau memang karena baru saja makan coklat pemberian dari orang yang saya cintai dan mencintai saya. Sebab begitu istimewanya si coklat ini, sepertinya dari sepuluh orang mungkin sekitar delapan orang menyukai coklat yang memiliki rasa pahit hingga bermetamorfosis menjadi manis dan menggemaskan. Dan bahkan menurut survey BBC bahwa lumernya lemak coklat di mulut bisa meningkatkan debar jantung dan aktivitas otak yang lebih kuat. Namun sayangnya saya termasuk dua orang yang bukan penggemar coklat, sebab saya tidak paham dengan rasa lumer dari si kecil berharga fantastis.
Biasa saja, bagi saya yang bukan pecinta fanatik coklat, menikmati coklat sebagai makanan atau minuman yang sama dengan saya meminum perisa yang lain. Tak ada sensasi lain, selain rasa subyektif dari seseorang yang memberikannya. Disebutkan juga bahwa coklat sebagai kandungan yang kaya akan antioksidan, pencegah radikal bebas, dan meningkatkan serotonin dalam otak. Sekali lagi, kecuali fungsi kesehatan dan fungsi psikologis, bagi saya coklat adalah sesuatu yang biasa saja.
Dan yang menjadikannya memiliki rasa personal bagi saya adalah, ketika saya memakan coklat, lalu teringat kembali masa kecil saya, dimana saya penggila coklat. Mulai dari minuman rasa coklat, wafer, biskuit, hingga chiki dengan perisa coklat. Dan coklat batangan berlogo ayam berkokok dengan jengger merah, hingga coklat batangan yang sering mondar-mandir promo di televisi pernah menjadi makanan favorit saya. Hingga akhirnya sesuatu yang berlebihan berefek tidak baik dan meninggalkan sebuah rasa tersendiri yaitu BOSAN. Beranjak dewasa,  sensasi coklat tak ada apa-apanya bagi saya, menikmati coklat bukanlah bagian yang istimewa. Meski tidak istimewa bukan berarti menjadikan saya coklatophobia (bikin istilah sendiri..hehe maaf)
Dan kini saya menggarisbawahi bahwa coklat memberikan rasa yang personal. Antara saya dengan masa kecil, dan saya dengan masa kini, disebabkan suami penggemar coklat. Dia, cinta, coklat dan semuanya yang dia berikan kepada saya menjadikan rasa coklat begitu personal. Lumer..lumernya sama dengan saat saya memandangi wajah anak saya dan wajah suami saya. Bahagianya tak kalah dengan bahagia yang diberikan hormone bahagia coklat. Dan Allah sebaik-baik pencipta di dunia ini, biji yang begitu pahit ternyata begitu istimewa. Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. Allahualambishowab.
Bagaimana dengan para sahabat…pecinta coklat juga kah … ???
Selamat rehat
Putse, Sragen 11102016, 22.27 WIB



 Saya punya pengalaman tersendiri dengan si coklat yang katanya menjadi favorit sebagian besar penduduk bumi (dan maaf ini bukan data hasil survey, anggaplah pengamatan ngawur saya). Si manis coklat yang jadi primadona, mulai dari makanan, minuman, hingga material kecantikan dan perawatan tubuh bagi kaum metropolis. Dan saya ketika masih kecil hingga usia sekolah dasar adalah penggila coklat. Mulai dari coklat kampong dengan merek hewan berkokok berbungkus kertas warna merah dan sedikit putih, hingga coklat yang sedang  ngetrend di jaman saya kala itu. Coklat yang

Kelola Blog Lagiii...Pasca Persalinan



Asslamualaikum…selamat malam.
Alhamdulillah masih dikasih kesempatan ngeblog lagi, setelah hibernasi lamaaa banget, pasca lahiran, ngurus baby , dan sekarang baby nya dah mau delapan bulan..yeayy..alhamdulillah, udah gedean, kalau tidur udah nyenyak, Aibu (Ibu.red) udah agak longgar buat nulis lagi. Lagi pula kalau enggak dipaksain, akan banyak fungsi yang hilang. Menulis itu mengasah intelektualitas, maklum emak-emak model saya ini yang tak  bekerja kantoran, kalau intelektualitasnya enggak diasah, yang dihapal jangan-jangan cuma bumbu dapur thok, pasalnya emang bener saya ngupleknya di dapur, sumur, dan kasur terus sama si kecil, dan itu menyangkan. Hanya saja jangan sampai kesenangan saya yang baru menggeser kesenangan saya yang lain.
Menulis juga salah satu kesenangan, fungsi rekreatif bagi saya yang hidup dalam karangan penuh diksi (haalah) tapii memang untuk memunculkan ide, dan ide berkembang menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca itu susahnya minta ampun. Maka inilah perdana saya setelah melahirkan, saat predikat saya sebagai ibu rumah tangga lengkap sudah, blog ini pun mesti saya pertanggungjawabkan, sama dengan rumah yang berbulan-bulan terlantar, sekarang saya bersihkan kembali, tata ulang, dan isi dengan yang baru. Semoga isi blog kali ini lebih memiliki nilai manfaat ketimbang sebelumnya, sebab coretan kisah di bumi harus memberi manfaat untuk pembaca sekalian, tak sekedar curhatan saya semata. Aamiin…Selamat membaca.
Putse, Sragen 12102016, Sragen, 21.33 WIB