Kata Pembuka

Assalamualaikum ....^^

Minggu, 23 November 2014

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab

Sabtu, 15 November 2014

Guru (Bukan) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

"Kalo lo mau cari duit, bukan di sini! di dunia pendidikan, cari aja di tempat lain dengan cara yang lain!"  kalimat ini pernah saya frontalkan secara tak sengaja pada teman saya, entah berapa tahun yang lalu, dan sepertinya saya salah besar mengatakan kalimat tersebut, sebab kesejahteraan mutlak milik setiap profesi, apapun profesinya.

Jelang hari guru nanti tanggal 25 November, guru bukan kaum marjinal. Bukan juga manusia setengah dewa, tapi kalau ada akronim digugu dan ditiru ya..memang itulah adanya. 
Entahlah  bagaimana kisah para pendidik di luar negeri sana, kesejahterasaan, tuntutan, dan penilaian masyarakat.

Berkaitkan dengan kalimat yang pernah dengan frontal saya katakan pada teman saya, kala itu, uang tunjangannya belum keluar, kesejahteraannya kecil, hak...dia katakan itu hak, ya saya tahu itu, hak para guru mendapatkan kesejahteraan yang layak. Tapi kembali lagi, bukankah kita sudah sama-sama tahu bagaimana kesejahteraan untuk para guru di negeri ini? gaji marjinal. Ketika pegawai swasta lain sudah menikmati gaji UMR, guru mesti harus ikhlas dengan bayaran per jam yang diterimanya, beda sekolah beda kebijakan. 

Saking kesalnya dengan keadaan tersebut maka dengan frontal saya katakan kepadanya agar tidak cari uang dan mengharap-harap kesejahteraan lebih di dunia pendidikan, sebab itu sama saja dengan mencari jarum di lumbung padi. Ketika tuntutan kian banyak, jam kerja yang tugas-tugas yang beda tipis dengan karyawan yang lain, ditambah dengan bagaimana penghargaan negara terhadap profesi yang akhirnya melahirkan orang sekelas presiden, doktor, profesor, dan ahli-ahli yang  dapat menambah kebermanfaatannya pada negara? dimana penghargaan itu?

Melalui tunjangan sertifikasi, invasing? lalu bagaimana nasib guru honor? bagaimana nasib guru di sekolah swasta yang muridnya sedikit? bagaimana pula nasib guru bantu yang nasibnya masih terkatung-katung?  bagaimana juga dengan cara pemilik-pemilik sekolah swasta memberikan penghargaan pada guru mereka?
Profesionalisme itu selalu berbanding lurus dengan penghargaan, semakin profesional maka penghargaan semakin besar, begitu pula sebaliknya, lantas apakah guru di tanah air tidak profesional? sebut saja gurunya Ibu Mus, gurunya Lintang di novel garapan Andera Hirata, apakah tidak cukup profesionalkah ketika akhirnya dia berhasil melahirkan orang sekualitas Lintang? 

Ah, entahlah...saya hanya heran, dari sisi mana orang melihat? ketika ada yang sukses tak pernah ditanya siapa guru dibalik itu, tapi ketika banyak terjadi penyimpangan, maka akan dikatakan..ini semua salah guru. Mungkin itulah ada kutipan: pahlawan tanpa tanda jasa" tapi saya tak suka dengan ungkapan ini, sebab seolah dengan ungkapan ini seperti ini mengaburkan sisi profesionalitas guru, yang menyebabkan kaburnya juga penghargaan untuk mereka. Menurut hemat saya, penghargaan itu perlu apapun profesinya, harga dari profesionalisme.


gambar hasil selancar dari google image
(bersambung) 

Jumat, 14 November 2014

Wonogiri i'm in Love (Love Karst, Love is You Ai)

Tempat-tempat itu..dulu hanya cerita, dan kau membuat cerita di atas cerita, nyata..di kedua mataku, arigato gozaimasu Ai .. ;)

Masih di jumat penuh inspirasi. Ini utang tulisan dari saya untuk saya (aneh kan?) dan sudah lewat sepuluh hari yang lalu, tapi terlanjur ngemeng sama suami mau bikin tulisan menarik tentang Wonogiri, dan mumpung belum lewat ampe sebulan, so tak ada kata telaat ^^. 

Tanggal dua November kemarin ceritanya hari lahir saya, biasanya sih enggak pernah ada perayaan apa-apa, ucapan dari orang spesial apalagi, boro-boro ucapan atau hadiah dari yang spesial, orang spesial yang dimaksud juga belum ada, meski orang tua dan murid, serta rekan sejawat tidak kalah spesial dari yang akan dimaksud dalam tulisan ini ke depan ;)

Alhamdulillah di usia yang sudah berkurang banyak kemarin saya sudah menggenapkan setengah dien, nah orang spesial itu hadir, dengan ucapan spesial saat pertama saya membuka mata, "Selamat Ulang Tahun Love, semoga jadi istri yang baik," duuh..nyesss deh sama ucapannya, sama doanya, plus sama perlakuan manisnya (enggak maksud provokasi jomblo-ers lhoo ;) ) 

Sedikit siang dia mengajak saya, hadiah ulang tahun katanya. Dia paham sekali saya suka hadiah yang seperti apa, padahal sih enggak peduli mau dikasih apa saja asalkan darinya saya senang sekali. Ternyata dia punya kejutan...motornya membawa kami makin menjauhi Surakarta menuju Wonogiri. "Wonogiri here i' come, jerit saya-dalam hati tentunya ^^

Perjalanan penuh perjuangan, dari Surakarta mesti harus lewatin Sukoharjo, baru Wonogiri. Wow, yang kebayang apalagi kalau bukan bakso..wkekekekq (maklum otak makanan) tapi ternyata suami mau menunjukkan sesuatu yang bikin saya bilang "wew" wew ya bukan wow.. dan eng ing eng...weeeeewwww..bentang lahan karst, weeeewwwww :D

kondisi topografis di Kabupaten Wonogiri
Pemandangan Pegunungan Sewu diliat dari kejauhan

Yup Wonogiri, dengan kondisi geografis merupakan pegunungan berbatu gamping, lahan karst, pahatan alamiah karst menjadi pemandangan kece di sepanjang perjalanan yang topografinya perbukitan bergelombang. Selama di motor berasa field trip bener dah sama suami (kebetulan latar belakang jurusan mirip-mirip--Ilmu Tanah-Geografi--mirip tho ;) ) so yang terasa selama perjalanan bukan seperti pasutri yang lagi honeymoon yang ngebahas cinta-cintaan-halaah hehe, yang ada di tengah terik mentari, di atas motor yang jalannya di atas topografi enggak rata, yang ada malah bla..bla..bla..doi jelasin tentang lahan karst, jenis tanah tuff, jajaran pegunungan sewu yang terlihat jelas dari kabupaten ini, enggak terasa sampai di rumah seniornya Mas Doni namanya, lokasi tepat di depan SMA 1 Wonogiri. 

Ngobral-ngobrol panjang lebar, sampailah kita harus meneruskan lokasi "field trip" ke Museum Karst, berlokasi di kecamatan Pracimantoro. Dan setelah hampir empat puluh lima menit motor melaju di atas bukit bergelombang, setelah pinggang pegal, dan lumayan parno kalau berpapasan sama truk, alhamdulillah ketakutan dan rasa letih terbayar saat kami sampai di kawasan GEO PARK ... di kawasan yang entah berapa hektar itu dengan budget murah meriah  (delapan ribu sudah untuk dua orang plus motor) kami bisa berkeliling sepuasnya di kawasan wisata edukatif itu. Wew gilingan bengeeet...selama saya kuliah lapangan di geograpi belum pernah deh njajah daerah ini.

Denah petunjuk kawasan GEO PARK

Di kawasan tersebut ada museum tentang karst, bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia! weeeww lagi ;), termasuk pembentukkannya plus bentukan-bentukan alam yang terjadi akibat pelarutan batu gamping tersebut. Nyaman udah pasti, edukatif juga, menarik untuk yang udah punya anak ;), yang masih bulan madu juga seru, adeeeemm... (ya iyalah AC) hehe kontras dengan suhu di luar yang lumayan buat produksi keringat makin banyak, tapi tidak disarankan buat yang pacaran wekekekkq :D. Sayangnya kami sudah terlalu sore sampai lokasi, museumnya sudah mau tutup (tutup jam 16.00).

Salah satu jenis batu gamping

Atoll (salah satu bentukan gamping)

Proses pembentukkan karst

Kalsit

Fosil proses pembentukkan marine
Ai ^^

Narsis boleh ya ^^

Figure cavers


Tidak hanya museum karst yang menarik, tapi juga beberapa goa-goa hasil pelarutan batu gamping, lagi-lagi karena hari sudah sore maka lain waktu saja menikmati goanya. Jam lima sore sampai di rumah Mas Doni lagi, istirahat sebentar, Mas Doni menyalakan mesin motornya, mengajak kami ke suatu tempat. "Kemana Ai? tanya saya bingung, suami saya masih belum paham akan diajak kemana, kami berdua mengikuti motor Mas Doni dari belakang, melwati jalan setapak bertopografi kasar. Dan tiba-tiba saja..jreeeng.. Waduk Gajah Mungkur.

Sunset Gajah Mungkur

Sorry, ga maksud pamer yaa ^^

Baju hitam, senior suami saya-Mas Doni ^^

Weeww lagi, waduk fenomenal ini, namanya saya sering dengar, fotonya juga baru saya lihat saat suami pernah penelitian ambil sampel air di sana, tapi liat jelas sekarang, baru di tanggal 2 November, menjelang magrib. Pemandangan dramatis, di tengah-tengah danau, matahari berwarna oranye perlahan tenggelam, sunset enggak cuma keliatan dramatis di pantai aja ternyata, di danau juga! weeew fantastis!

Sayangnya kemarau panjang membuat air waduk menyurut, informasi dari Mas Doni, waduk yang membendung sungai terpanjang di Jawa ini merupakan pemasok sumber air minum di Wonogiri, lah kalau surut sampai fosil-fosil desa yang pernah ditenggelamkan saat pembangunan waduk jadi terlihat itu piye?? parah banget kan surutnya berarti ... so poor :(

Waduk Gajah Mungkur, so cool, pemadangan yang bikin mata susah ngedip, tapi juga enggak lama, udah magrib kita harus kembali pulang ke rumah Mas Doni, sholat magrib, dan setelah itu lanjut ke Kota Sragen.. ;) sebelumnya jamuan makan malam menarik dari Mas Doni. Sejak dulu bagi saya karst selalu menarik, menarik sekali. ^^

At last but not least --Arigatone Ai .. Matur Nuwun buat Mas Doni ^^ next time mengagendakan caving di GEO PARK..semoga bisa tereksekusi :D

Happy Weekend ^^

Mimpi Itu Panjang, Iradah ...

"Ide itu bertebaran di muka bumi, seperti rahmat Allah yang bertebaran, hanya yang sulit adalah mengalahkan "alasan" --- dikutip dari kalimat Mbak Asma Nadia mix sama Ari Khusrini--

Well, sruput teh dulu, jumat pagi semangat kan? besok weekend, saatnya melakukan sesuatu yang menyenangkan. 

Tulisan saya diawali untuk menanggapi keluhan seorang teman-Iradah namanya, pipinya gempil dan senyum manisnya, bikin gemas setiap mencubit pipinya ;) . Mimpinya hebat, punya konsep juga, bakat ada, modal ada, semangat ada, mungkin tinggal sisi teknis yang belum lengkap (ada bumbu yang kurang)  ;) dia ingin jadi penulis..ya dan menurut saya dia sudah menjadi penulis, masalah sudah ada buku atau belum itu hanyalah kesempatan, tapi saya yakin dan percaya, bukunya sebentar lagi akan ter-display dengan apik di rak toko buku besar :D

Bukan curhat sih, tapi sekedar berbagi saja, keinginan saya menjadi penulis itu sudah ada sejak saya semester satu di kampus, waktu itu usia saya masih delapan belas (masih imuut kaan?? wkekeekek), ya, dan pertama kali saya verbalkan keinginan/mimpi dibumbui ambisi itu saat saya, Monos, Dewo duduk bareng di perpustakaan, ngerjain tugas plus ngerumpi, hingga terlontarlah kalimat : "Gue sebenernya pengen jadi penulis Wo, Nos," kata saya pada Dewo dan Monos, anak geografi yang udah enggak ada padanannya deeh.

Monos nyengir aja sambil manggut-manggit, modelnya Monos yang selow dan cenderung membahagiakan lawan bicara dengan tidak terlalu sering mendebat, berbeda dengan Dewo yang cukup reaktif, "Kalau Puput mau jadi penulis, mestinya dari sekarang udah mulai nulis, udah mulai kirim ke majalah, koran, penerbit, enggak cuma pengennya aja," jleeb..mendingan ditusuk pake tusuk gigi deh, daripada denger kalimatnya Dewo barusan, hehe.

Saya jadi ingat pepatah Cina, Obat Baik Pahit Rasanya, kalimat Dewo pahiiit rasanya, tapi mujarab hasilnya, meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Pasca kalimat Dewo itu saya bukannya rajin nulis, malahan makin rajin baca..lhooo? Ya, sebab setelah itu saya merasa memantaskan diri untuk menjadi penulis, bisakah? boro-boro ngirim tulisan ke majalah, koran, boro-boro nulis, bahkan mimpi jadi penulis, sebab saya rasa-rasa, perbendaharaan kata saya minim, apalagi diksi, apalagi teknik menulis, waduuh masih jauh.

Mencuri-curi waktu di perpustakaan, selain buat ngerjain tugas yang minimalis, malahan saya sering nongkrong di lantai 4, tempatnya novel-novel kece dipajang, tugas geografi gampaanglaah...dapet-dapet nilai B juga enggak apa, C juga masih tak apa, asalkan jangan D, heheh (jangan ditiru) 

Kali itu, saya tidak hanya menikmati cerita yang disuguhkan penulis di novel itu, tapi saya juga mulai belajar bagaimana si pengarang membuat karakter penokohan, alur, dan konflik, plus memperhatikan diksi yang digunakan. Mimpi saya reset ulang, punya keinginan saja tidak cukup, apalagi hanya dengan emosi, semuat butuh perencanaan yang matang plus amunisi :D

Pasca kuliah saya merasa punya waktu lebih luang, karena setiap pulang kerja paling saya tidur-tiduran, nonton televisi, daripada menghabiskan waktu dengan seperti itu kembali saya ingat mimpi saya yang tertunda. Bismillah...saya mulai membuat cerita, mengirim ke majalah, ikut lomba-lomba dan hasilnya....alhamdulillah kalah :D

Bahkan pembangunan sebuah Taj Mahal yang indah saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar, salah satu analogi itu yang menguatkan saya untuk sabar menulis. Kalah itu biasa, menang juga biasa, yang luar biasa itu kalau buku dipajang di Gramedia terus lebih luar biasa lagi kalau jadi best seller... wekekekekq ;)

Batu pijakan saya selanjutnya adalah pada tahun 2010, Oktober, saya diundang via media sosial untuk mengikuti workshop menulis, dari penulis ternama- Mbak Asma Nadia, nekat ikut, modal tabungan yang segitu-gitunya, merogoh kocek dengan cukup dalam, empat ratus ribu hanya untuk workshop yang cuma sehari (dari jam 09.00-17.00) tapi uang sebesar itu yang membuat saya meringis saya anggap itu sebuah investasi dari mimpi-mimpi panjang saja. Kalau kata pepatah jawa : Jer basuki mowo beo, artiin sendiri yaks..hehe, eeh enggak-deh, jadi artinya kurang lebih tidak akan ada kesejahteraan tanpa modal/biaya/etc..gitu deh...

Dari acara itu mata saya melek, gimana teknik nulis, bikin plot, alur, konflik, sampe deskripsiin cerita yang baik, penokohan karakter yang hidup, plus mental yang baik. Enggak moody-an, sabar nulis, merangkai cerita, dan yang terpenting banyak membaca.

Setelah acara itu, alhamdulillah, tahun 2011 saya ikut lomba lagi setelah melalui kekalahan berkali-kali (enggak kapok ceritanya, hehehe) alhamdulillah saya naskah saya diperhitungkan dalam sepuluh naskah favorit, dibukukan, di-display di Gramedia, senang bukan kepalang meski baru punya satu buku, itu pun meski belum best seller, tapi tak apa, selanjutnya...mimpi saya masih panjang dan berproses tidak mudah, tapi saya menikmati.

So, ini untuk Iradah, teman saya yang sholihah ;), semua bisa dicapai, bisa dipelajari, frustasi kala membuat cerita itu biasa, kurang semangat saat menulis juga biasa, tapi yang luar biasa itu kalau saat lemah dan kurang semangat timpa dengan multivitamin, ya buku-buku multivitaminnya, tak usah menunggu lama, nanti juga akan sehat lagi.

Iradah, next penulis inspiratif berikutnya, saya percaya itu, butuh kekuatan untuk mengalahkan berbagai alasan, butuh juga buku-buku sehat, berkumpul dengan mereka yang sudah hebat mengeluarkan lebih dari satu buku, perbanyak link. Sukses Iradah..love you  ^^

Rabu, 17 September 2014

I Love You, Because Allah

"Lo selalu inget Put sama kejadian yang dah belasan tahun silam...," kata Mila
"Ya, dan lo selalu lupa sama apa-apa yang udah lewat," jawabku kalem-kalem keren.


Cerita ini bermula dari senin kemarin. Mila-sobat saat masa-masa susah senang bahagia enggak ada batasan yang nyata (baca: jaman kuliah), dia datang ke rumah saya, membawa kabar duka. Ayahnya Sri --teman sekelas kami di kampus--meninggal dunia. So, tanpa pikir panjang (telepon suami dulu sih kalo mau ta'ziah, hehe), capcus lah saya n Mila ke Tanjung Barat (meski yeah, well, kayak kebiasaan yang udah-udah dibonceng Mila, dan ini beneran super enggak keren, hehe) 

Sampai Tanjung Barat, masih banyak tamu, jenazah ayahnya Sri sudah dimakamkan. Ketemu Sri dan keluarga, cupika cupiki, peluk-peluk, sambil ucapin belasungkawa. Sri alhamdulillah tabah, kondisi fisik dan psikisnya terlihat stabil. Dan di moment ini tanpa sadar kita nostalgiaan, cerita ngalor ngidul, pastinya ya itu mengulik lagi jaman-jaman susah senang bahagia enggak ada batasan yang jelas. 

Hm, dan ternyata kami sudah bersahabat dua belas tahun lamanya, didera beragam rasa, didera bermacam kesibukan. Ikrar cinta I love You because Allah yang dulu sering kami ucapkan saat bersama masih terngiang jelas,  serasa semua baru kemarin saja.

Agustus 2002, kami dipertemukan di satu ruang kelas. Ruang 315, yang kata senior waktu itu sih ruang kelas tersebut milik jurusan Geografi. Oh ..hooh lah, saya kan emang daftarnya jadi mahasiswa Geografi UNJ (bukan mahasiswa Sejarah, or yang laen, so dah pasti dikumpulinnya di kelasnya Geografi.  Di ruang itu, ketemu senior-senior yang beragam gaya, wajah, dan karakter. Dan yang terpenting adalah pertemuan dengan wajah-wajah baru satu perjuangan, duduk lesehan di bawah, tampang cupu, bau-bau SMA (termasuk saya).

Tanggal 15 Agustus 2002 tepatnya, saat briefing untuk persiapan MPA (Masa Pengenalan Akademik) ya sebenernya sih judulnya ospek... :P. Kirain sih yang namanya briefing itu paling cuma beberapa jam, enggak taunya seharian--(metong :P) penyiksaan dimulai dari jam delapan pagi sampai jam lima sore (sebel sama senior). Nah di hari itu munculah nama-nama mahluk yang cupu-cupu. Ada:  Ade siti, Ade Zaenal (Jae), Ade Setiadi (Gondrong), Dewo, Intan, Ira, Eka, Esti, Yayah, Ade Tarya (Tarjo), Akis, Sri, Ikhmah, Pati (udah almarhumah), Mae, Uswah, Atun, Nining, Rakhma, Arin, Bondan (kepala suku), Nita, Kokom, Iid, Hendra (Moncos/Monos), Denny, Hadi, Agus, Iwo, Sam, Ula, Elly, Siti, saya sendiri,  dan terakhir Miftah (masuk tanggal 16 Agustus 2002, mangkir di briefing pertama)

Selanjutnya, kami beradaptasi. Mulai dari yang sikapnya begini begitu sampai yang freak banget diliatnya. Tapi apapun itu tetap menyenangkan. Ah, dan kesenangan itu terus berlanjut, tidak hanya di bangku kuliah, di kantin, di perpus, di laboratorium alamnya geografi (kuliah lapangan) , di sekretariat BEMJ, di musholla, di kosan teman (numpang ngerjain tugas, makan plus bobo siang kalau nggak ada kuliah dan nggak ada rapat-rapat siluman ;) ) hingga di arena pendadaran (ruang sidang yang horror) 
Ya begitulah kira-kira. Selama empat tahun setengah, saya bareng mereka di satu gedung. Mahluk-mahluk cupu itu akhirnya bermetamorfosis jadi mahluk-mahluk keren berkarakter. Menapak jejak masing-masing. Satu persatu mengepakkan sayap di tempat berbeda. Kami terpisah jarak, dan ruang.

Kembali lagi ke Mila dan Sri. Dan saat-saat saya menukil kenangan bersama mereka, menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi kami. Bahkan sesuatu yang dulunya terasa pahit pun tetap menarik untuk diceritakan dan dinikmati. 

Hingga Mila mengatakan, "Lo selalu ingat apa yang pernah terjadi Putse,"
Sri hanya tersenyum genit, dan langsung saya tegaskan, "Ya dong, dan lo selalu lupa sama apa yang udah lewat, tapi kalau gue ungkap gini lo jadi inget lagi kan?" jawabku kalem-kalem keren.

Dan asal kalian tahu saja, cerita ini akan menarik untuk dibukukan, "Mahluk-mahluk Manis di Ruang 315."

--------karena kalian begitu berharga. Love you because Allah....itu yang sering kami ucapkan disela-sela kebersamaan kami-------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 10 Juli 2014

Sepenggal Doa Untukmu

 Allahummasurna ikhwana wal mujahidina fii filistin (Ya Allah, berilah pertolongan kepada saudara-saudara dan para mujahid di Palestina)

Sepenggal doa untuk saudara-saudara kita di Palestina. Jauh, ribuan kilometer dari tempat kita berada, yang bahkan kita juga tak mengenal mereka, mereka pun begitu. Namun, tali aqidah tak bisa putus hanya karena tersekat geografis. Mereka diberi "kenikmatan" kala Ramadhan. Allah memanggil jiwa-jiwa suci untuk bercengkrama dengan para bidadari. Meski begitu rasanya secara kasat mata diri ini tak rela melihat tubuh tercabik-cabik oleh dentuman-dentuman dan kebiadaban Israel laknatullah. Ya, meski kita semua tahu bahwa perang ini adalah perang terlama sepanjang kehidupan, hingga Allah menetapkan takdirnya dengan sebuah kemenangan untuk kibaran bendera Islam di sana. Tetapi, bukan berarti kita menutup mata begitu saja, lantas mengatakan bahwa di sana ya di sana, dan di sini, kita urusi saja yang di sini (di tanah air permasalahan yang masih banyak), sungguh tidak demikian sahabat. Di manapun berada, mereka saudara kita satu aqidah. Bahkan orang-orang non muslim pun sekarang tengah berbondong-bondong melakukan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Semata karena tidak tahan dengan kebiadaban yang ada di sana. 

Palestina, Masjidil Aqsa, kiblat umat Islam yang pertama, tempat yang diberkahi. Masjidil Aqsa, salah satu tempat Isra dan Mi'raj. Tempat bersejarah dan bernilai untuk seluruh umat Islam (sekali lagi Islam, tanpa pengecualian, bukan golongan A,B, atau C, tapi umat Islam keseluruhan). Maka inilah salah satu alasan kita tetap mendukung dan membela mereka. Meski hanya sepenggal doa tadi. Meski rasanya saya sendiri malu mendoakan mereka, sementara diri ini berlumuran dosa. Sementara juga, mereka yang didoakan jelas-jelas terjamin surga, jelas-jelas para kekasih Allah. Untung saja tidak ada syarat macam-macam untuk mendoakan sesama saudara, untung saja Alllah tidak membatas-batasi doa yang melayang ke langit. Syaratnya satu, cukup Ikhlas. Palestina, masalah kita bersama, di sana tengah kembali terluka. 

Akhir kata, pesan dari founding father negara kita :

"Selama kemerdekaan bangsa Palestina beleom diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itoelah Bangsa Indonesia berdiri menantang Pendjadjahan Israel"
(Ir. Soekarno-1962)


Allahualambishowab..

Sabtu, 05 Juli 2014

Racauan Jelang 9 Juli

Hari-hari jelang 9 Juli 2014. Hari dimana warga negara Indonesia memilih pemimpin mereka. Awalnya saya sangat-sangat tidak peduli dengan apa yang terjadi. Berusaha menutup mata dan telinga dengan segala isu yang beredar di luar sana. Ah, bukan kah ini sejenis ritual lima tahunan? Siapapun yang akan menjadi pemimpin sepertinya akan sulit memberikan perubahan signifikan pada negara ini. Sorak-sorai acara debat yang terus diperbincangkan, mulai di warung kopi, warung nasi, bahkan mungkin di warung remang-remang. Mulai di pangkalan truk, pangkalan bus, pangkalan udara, pangkalan ojek, hingga di pangkalan militer (tentunya kasak-kusuk--sebab itu zona netral). Tak pelak, pembicaraan pun ramai di seluruh media, hingga media sosial. Semua orang di negara ini mendadak berubah bak pengamat politik, pun mendadak menjadi politisi praktis. 

Ya, semua ini lumrah, sebab suhu perpolitikan di bumi pertiwi sedang memanas. Hingga ada seorang kawan yang dengan gemas mengatakan ini urusan ideologis! Para pendukung yang saling mengejek capres sebelah, memberikan sebuah paparan yang entah fakta, data, atau isu. Entah, semua ini sama sekali tak bisa saya ketahui. Tapi yang jelas, kampanye hitam dan abu-abu bertebaran di negara yang katanya memiliki nilai toleransi yang tinggi. Ketidakberadaban ternyata ada di tengah ideologi Pancasila yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab"

Ah, andai-andai para perumus-perumus ideologi bangsa ini melihat di langit sana (Ir. Soekarno, Muh Yamin, dan Soepomo) mereka pasti menangis. Sebab ternyata berpeluh-peluh orang-orang hebat ini menghasilkan sesuatu yang besar untuk bangsa ini ternyata hanya terpakai sebatas di bangku sekolahan saja. Nyatanya bagaimana dalam implementasi sehari-hari?

Tuh kan, saya juga mendadak jadi sok pengamat ideologis begini, sok Pancasilais, padahal bisa jadi saya juga tak terlalu paham benar dengan apa itu ideologi negara yang dirumuskan oleh Ir Soekarno dkk. Bukan saya skeptis, sinis, apatis, apalagi anarkis, Tulisan ini hanya sekedar peramai suasana, pemanas, tim hore, meski entah siapa yang saya berikan tepukan tangan. Tunggu tanggal 9 Juli 2014, akan seramai dan semeriah apa pesta demokrasi di negeri ini?????

(Allahulambishowab)