Kata Pembuka

Assalamualaikum ....^^

Minggu, 23 November 2014

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab