Selasa, 09 Juni 2015

Pedagang, Profesi Kelas Dua?

“Jika engkau seorang yang berkemampuan jadilah pedagang, namun, jika engkau setengah-setengah jadilah pegawai.” ----Shibushawa Eiichi—tokoh perubahan social Jepang antara era Shogun Tokugawa-Meiji.

            Meraup untung manis dengan berbisnis, tapi buka mata lebar-lebar pasti akan ada resiko yang mesti dibayar. Itulah dunia bisnis, dunianya para pemberani, berani menghadapi konsumen, berani pula menghadapi resiko, namun pastinya berani meraup hasil maksimal dan menyebar menjadi manfaat, apalagi jika mampu menjadi socioenterpreneur..maka hasilnya..wowwww.
            Hari sabtu kemarin ceritanya saya diajak sama suami ke sebuah mall, namanya Solo Paragon, kalau di Jakarta mengingatkan saya akan Pelangi (Plaza Semanggi) atau semodel FX Senayan. Di sana ternyata suami saya janjian ketemuan dengan rekan-rekannya saat kuliah dulu, karena kebetulan rekan suami saya pemilik kafe tenda pisang molen dan dawet ayu di food gardennya Solo Paragon. Makanan yang dijual sama dengan panganan di pinggir jalan, seperti pisang molen Karanganyar, pisang molen seharga tiga ratus rupiah yang pernah saya beli di Tawangmangu, yang gerobaknya seperti gerobak gorengan biasa. Dawetnya juga tak jauh beda dengan dawet-dawet pinggir jalan dengan gerobak sederhana, tapi yang membedakan adalah pengemasannya, dan penampilannya. Namun kedai milik rekan suami saya berbeda dengan yang di Tawangmangu, meski rasa mirip, tapi tempat yang membuatnya pisang molen itu berharga bukan tiga ratus rupiah.
            Dulu waktu Oom saya yang lulusan Tekhnik Industri dari Universitas ternama di Surabaya punya kafe tenda di bilangan Kota Surabaya, saya sempat berpikir, Oom saya itu sarjana, untuk apa kuliah susah-susah kalau hanya jadi pedagang, coba jika tidak usah kuliah, uangnya dijadikan untuk modal dagang saja, tak perlu repot menyusun skripsi jika hanya niat jadi pedagang. Tapi lama-lama saya berpikir, entah itu second choice dari Oom saya atau entah memang proyek iseng-iseng berhadiah dengan rekan-rekannya, yang saya dengar kafe tenda itu dikelola dengan cara tak biasa.  Sama dengan rekan suami saya yang usaha pisang molen di food gardennya Solo Paragon, dia berbeda, penampilan gerobaknya bukan gerobak standar seperti gerobak gorengan pinggir jalan, pengemasan pisang molen juga bukan semata pakai kertas bungkus gorengan ala kadarnya, dengan dihiasi banner di depan kedainya, dan duduk lesehan dengan meja kayu yang cukup eksentrik, bisa membuat pembeli nyaman dan ingin berlama-lama berada di sana, mungkin bukan hanya sekedar berlama-lama tapi bisa jadi tambah beli lagi.
            Itulah bisnis ditangan orang-orang yang memiliki kesempatan berpendidikan lebih baik. Menjadi pedagang bukan sesuatu yang buruk, bahkan seorang Mark Zukerberg adalah pedagang, dia menjual system jejaring pertemanan yang kita nikmati sekarang, juga Sakichi Toyoda yang seorang sarjana tekhnik pun berdagang, berdagang mobil hingga mendunia, begitu juga dengan Soichiro Honda, mereka semua berdagang, permasalahan hanya mayoritas warga kita lebih senang menjadi konsumen, dan seolah memandang bahwa pedagang adalah kelas dua. Seperti mengutip kata-kata seorang psikolog, Bapak Sartono Mukadis di sebuah surat kabar, "coba saja orang Indonesia diberikan dua pilihan, ada pacul dan sempritan untuk mencari uang, kira-kira pilih mana?" dan beliau mengatakan mayoritas orang kita akan memilih sempritan yang paling mudah mendapatkan uang, memarkir mobil, tidak dengan pacul yang susah payah di tanah yang bisa jadi tidak subur.
            Dulu saat saya baru lulus kuliah, saya jual buku, buku-buku keren terbitan salah satu penerbit ternama di Indonesia, dan dengan entengnya teman saya menyeringai, “jadi lo lulus sarjana cuma buat dagang aja?” dan saya waktu itu langsung mengkeret diomongin seperti itu, mendadak saya jadi rendah diri, padahal andai dulu saya tahu bahwa berdagang adalah sesuatu profesi yang mulia, sebab itu salah satu profesi Rasulullah SAW, panutan kita sepanjang masa.
            Mundur ke belakang lagi, suami saya pernah mengajak saya ke daerah Wonogiri, di sana saya berjumpa dengan senior suami saya, yang lagi-lagi seorang sarjana, di tengah kesibukannya sebagai penyuluh pertanian dia juga berbisnis fotokopian dan penyewaan rental internet, lagi-lagi berdagang. Selayaknya seorang sarjana, bisnisnya dikelola dengan baik, dengan manajemen yang baik, hingga usahanya cukup besar.
            Nasi kucing, kalau di Jakarta kita mengenal nama panganan itu bukan? Nasi yang dibungkus kertas dengan ukuran setengah porsi dan yang pasti tidak mengeyangkan jika makan satu bungkus, dan disajikan di atas gerobak yang kita kenal dengan sebutan angkringan dengan beragam lauk pauk yang nantinya akan dibakar kembali dengan arang yang mengepul, kalau di Jogja-Solo dikenal dengan Angkringan HIK. Dan itupun dimiliki oleh senior suami saya yang lainnya di daerah Sukuharjo, di tengah-tengah kesibukannya menjadi seorang guru di pagi hari, malamnya dia tanpa gengsi menjadi pedagang angkringan dengan rekan-rekannya, meraup keuntungan fantastis, dan angkringan yang selalu ramai dengan pengunjung, sebab angkringan tersebut tidak biasa, tidak seperti angkringan tradisional pada umumnya. Menunya beraneka, kemudian diiringi dengan pertunjukkan musik secara live seolah-olah kita sedang berada di kafe prestisius.
            Masih ada lagi, junior suami saya, yang memiliki lahan pertanian buah dan sayuran, tak hanya sekedar menjual melon dengan biasa saja, tapi melon dikemas dengan papper bag tak biasa, dia sengaja memesan sebuah papper bag istimewa untuk semakin menambah keistimewaan melonnya tersebut. Alhasil, harga melon pun menjadi tak biasa, dia seorang sarjana pertanian.
            Melihat fenomena seperti itu saya dan suami yang baru merintis usaha, dan memberanikan diri mengadu nasib menjadi pedagang tetap optimis, bahwa berdagang bukanlah pekerjaan orang kelas dua. Para pebisnis sukses juga diawali dengan menjadi pedagang gurem yang inovatif dan melalui pemikiran-pemikiran cerdas. Maka, tak ada istilah sarjana atau bukan, bahkan seorang professor pun  tak akan masalah jika ikut meraup keuntungan di dunia perdagangan.


Allahualambishowab
Selamat Malam
 Putse-Sragen, 9 Juni 2015

Sabtu, 06 Juni 2015

Ketika Cinta Berbalas Cinta




Cinta adalah karuniaNya, bila dijaga dengan sempurna
Resah menimpa, gundah menjelma
Bila cinta tak dipelihara
(The Fikr-Cinta)

            C.I.N.T.A, tulisan saya ini kembali membahas cinta. Karena memang frase yang satu ini tak akan pernah habis dan usang untuk terus dibicarakan. Terus,terus, dan terus. Ada pemuja cinta, ada penghujat cinta, pengkhianat cinta banyak, tapi untuk orang-orang yang mengerti bagaimana cinta yang sebenarnya itulah yang sedikit. Allahualam bishowab, apakah saya termasuk yang mengerti atau tidak. Tapi selama yang saya jalani bahwa cinta itu hadir bersama dengan rasa tanggung jawab, keikhlasan, dan rela berkorban. Cinta itu memahami, menghargai, dan mau mendengar. Dan cinta yang benar itu pasti akan berbalas cinta.
            Sebenarnya tulisan ini berawal dari sebuah manuskrip tentang seseorang yang patah hati karena cinta, saya sebut saja Mbak X ya, agar privasi terjaga. Jadi dalam manuskrip tersebut, dia mengatakan bahwa masih sulit melupaka orang yang pernah hadir dalam hidupnya, orang yang pernah ia sebut cinta, padahal sang pria sudah memilih yang lain, sudah bertanggung jawab pada perempuan lain untuk menjadi imamnya, dan bukan Mbak X yang dipilih. Lama, berbulan-bulan, Mbak X tak jua bisa menepis rasanya, rasa sakitnya ia nikmati, ia tenggelamkan dalam memori dengan pria tersebut. Masih mencintai dalam diam. Bisa jadi waktu belum berbaik hati dengannya, tapi bisa jadi pula, ia yang tidak mau waktu berputar. Bisa jadi ia mendiamkan waktu, ia masih memijak duri dan menggenggam bara, perlahan-lahan melukai diri, menutup mata dari belahan jiwa yang sebenarnya.
Saya yakin, mungkin ia tidak salah dengan rasanya, ia masih mencintai pria yang sudah menikah, tapi bukankah ia sama saja membuang waktu untuk seseorang yang benar-benar tidak memikirkannya? Memang tak selalu cinta berbalas cinta, tapi cinta yang benar, saya yakin pasti akan berbalas cinta yang sama, atau bisa jadi lebih.
Saya pernah mendapat nasehat dari seorang teman, bahwa ketika cinta membuahkan rasa yang sakit, maka yakinlah bahwa cinta kita sedang berpijak tidak tepat, sebab sejatinya cinta tidak akan menyakitkan. Ya, dan teman saya benar sekali akan itu, dia seperti membukakan mata saya bahwa cinta yang tepat akan berbalas rasa yang sama pula. Hanya masih menjadi rahasia Allah kepada siapa cinta ini kita peruntukkan?
            Selama ini rasa yang kita pikir cinta pada orang-orang yang tidak tepat mungkin bentuk ujian dan kasih sayang Allah selama kita berproses dalam mencari cinta yang sebenarnya, cinta yang hulu dan muaraNya pada Allah SWT, cinta yang bersamanya hari-hari kita diwarnai dengan usaha untuk taat dan mendekatkan kepadaNya, bukan cinta yang akhirnya melahirkan kedurhakaan dan kecemburuan Allah SWT.
            So, kalau saja saya bisa menanggapi manuskrip itu saya mau bilang, “Mbak, ayo move on, sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Hidup Mbak terlalu berharga hanya dihabiskan untuk menambah luka dengan percikan cuka, karena Mbak masih mengharap-harap orang yang sudah berlalu pergi. Bisa jadi yang datang itu jauh lebih baik dari dia yang dinanti. Cinta hanya akan datang untuk jiwa yang bisa menghargai dirinya sendiri, maka sembuhkan luka Mbak, dan tatap ke depan, langit masih biru, air masih terasa segar ditenggorokkan, angin masih menyejukkan, maka rahmat Allah masih bertebaran, begitu juga dengan kehidupan Mbak yang masih akan tetap berjalan, ada sesuatu yang indah diperuntukkan bagi Mbak, semua sudah tertulis di lauhul mahfuz. Terus berjalan ya Mbak, meski tertatih perih,” sejujurnya ini yang ingin saya sampaikan kepadanya, tapi sayang sepertinya memang tak bisa tersampaikan.
            Maka, cinta tak akan pernah salah, cinta yang benar akan berbalas cinta. Cinta hulu dan muaranya ada pada Allah semata, dia mengajarkan cinta kepada kita bukan berarti kita menjadi pemuja cinta, tapi untuk menyadari bahwa Dia-lah yang menciptakan rasa, maka tempatkan  rasa sebagaimana mestinya. Allahualam bishowab.
Sragen, 20.57 pm, 6 Juni 2015 (hari spesialnya yang kucinta) ^^

Minggu, 23 November 2014

Cinta Bukan Justifikasi Saudari..



Saya bukan tidak suka pada kalian wahai orang-orang kesayangan para malaikat, tapi sayangnya, di antara kalian akhir-akhir ini, senang sekali berghibah di media social, mungkin niatnya mengomentari atas perilaku-perilaku yang tidak sesuai syariat, tapi lambat laun, tulisan pedas kalian acapkali menimbulkan kesan, Islam itu keras.

Social media dunia maya bak jamur di musim penghujan dengan segala pernak-perniknya, mulai dari kaum intelektual, sampai orang-orang (maaf) tidak memiliki kesempatan sekolah. Situs jejaring pertemanan, ya di sana mulai terangkai cerita, mulai hanya sekedar penghibur diri hingga ada yang menjadikannya sebagai sarana dakwah, tak sedikit juga sebagai corong kampanye dari partai politik, sah-sah saja, selama bukan konten pornografi dan pemunculan isu SARA-menurut saya-
Rupanya tidak hanya sekedar untuk ajang narsis diri, pamer kebolehan, dan yang lainnya, sebagian dari kita hanyut di situs jejaring pertemanan. Kita tergelitik untuk mengomentari apa saja, mulai permasalahan ecek-ecek, hingga permasalahan negara.
Masalahnya akhir-akhir ini saya tidak terlalu nyaman dengan perilaku sebagian dari komunitas sebagian orang-orang yang dinilai baik secara penampilan, mengenakan pakaian taqwa, menutup aurat, bahkan belajar mengaji tiap seminggu sekali, mengapa rajin sekali mengomentari kesalahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan?
Ya, tentu saja, yang melakukan hal tersebut bukan hanya kalian, mereka pun tak kalah membabi buta jika mengomentari lawan-lawannya, menyebarkan fitnah dan berita bohong, menjelekkan dengan makian dan ucapan yang sangat kotor, tapi jika kalian wahai para saudari yang begitu menjaga diri, dimanakah letak perbedaan kalian dengan kaum tersebut?
Tergelitik memang untuk mengomentari sesuatu hal yang kalian pahami itu diluar syariat, tapi apakah tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar berteriak di social media hingga menjadikan phobia sebagian orang yang tak paham bagaimana Islam mengajarkan. Maka, munculan sebutan-sebutan tak menarik untuk kalian, padahal bukankan kalian adalah kaum yang terdidik untuk senantiasa menjaga dan menahan baik secara lisan maupun perbuatan?

Saudari sholehah, jilbab memang bukan ukuran tiada cela yang dilakukan, dan tiada dosa yang ditanggung, tapi bukankah kalian pahami bahwa pakaian taqwa itu adalah filter, filter untuk lebih menjaga diri dari perkataan, perilaku, dan sikap yang terlampau keras. Bukankah telah tertulis dalam sebuah kitab yang pernah kalian baca betapa lemah lembutnya teladan kita Nabi Muhammad SAW?
Saya paham, maksudnya agar menunjukkan kalian bukan mahluk lemah, lantas diinjak-injak seenaknya oleh orang-orang yang ingin mengaburkan syariat, tetapi adakah cara lebih elegan dari sekedar mengghibah, menyebarkan berita yang belum tahu pasti dari mana sumber pastinya, dan menyebarkan kesalahan orang lain? Atau bahkan berteriak lantang yang bisa saja berakibat pada orang lain yang tidak respek lagi dengan bendera yang kalian kibarkan? Jika senang menyebarkan kesalahan dan mengomentari dengan nyinyir, lantas apa bedanya dengan infotaiment setiap pagi dan siang di televisi?
Alakulihal, kalian begitu berharga wahai mahluk mulia, dengan apapun berbagai cara demi tegaknya syariat, tapi cara yang baik masih menjadi sorotan utama di negeri kita tercinta, maafkan saya yang lancang menulis ini, saya pun tak kurang cela, alpa banyak pula, tapi saya punya cinta, untuk kalian wahai saudari yang pandai menjaga diri.
Wallahualam Bishowab

Sabtu, 15 November 2014

Guru (Bukan) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

"Kalo lo mau cari duit, bukan di sini! di dunia pendidikan, cari aja di tempat lain dengan cara yang lain!"  kalimat ini pernah saya frontalkan secara tak sengaja pada teman saya, entah berapa tahun yang lalu, dan sepertinya saya salah besar mengatakan kalimat tersebut, sebab kesejahteraan mutlak milik setiap profesi, apapun profesinya.

Jelang hari guru nanti tanggal 25 November, guru bukan kaum marjinal. Bukan juga manusia setengah dewa, tapi kalau ada akronim digugu dan ditiru ya..memang itulah adanya. 
Entahlah  bagaimana kisah para pendidik di luar negeri sana, kesejahterasaan, tuntutan, dan penilaian masyarakat.

Berkaitkan dengan kalimat yang pernah dengan frontal saya katakan pada teman saya, kala itu, uang tunjangannya belum keluar, kesejahteraannya kecil, hak...dia katakan itu hak, ya saya tahu itu, hak para guru mendapatkan kesejahteraan yang layak. Tapi kembali lagi, bukankah kita sudah sama-sama tahu bagaimana kesejahteraan untuk para guru di negeri ini? gaji marjinal. Ketika pegawai swasta lain sudah menikmati gaji UMR, guru mesti harus ikhlas dengan bayaran per jam yang diterimanya, beda sekolah beda kebijakan. 

Saking kesalnya dengan keadaan tersebut maka dengan frontal saya katakan kepadanya agar tidak cari uang dan mengharap-harap kesejahteraan lebih di dunia pendidikan, sebab itu sama saja dengan mencari jarum di lumbung padi. Ketika tuntutan kian banyak, jam kerja yang tugas-tugas yang beda tipis dengan karyawan yang lain, ditambah dengan bagaimana penghargaan negara terhadap profesi yang akhirnya melahirkan orang sekelas presiden, doktor, profesor, dan ahli-ahli yang  dapat menambah kebermanfaatannya pada negara? dimana penghargaan itu?

Melalui tunjangan sertifikasi, invasing? lalu bagaimana nasib guru honor? bagaimana nasib guru di sekolah swasta yang muridnya sedikit? bagaimana pula nasib guru bantu yang nasibnya masih terkatung-katung?  bagaimana juga dengan cara pemilik-pemilik sekolah swasta memberikan penghargaan pada guru mereka?
Profesionalisme itu selalu berbanding lurus dengan penghargaan, semakin profesional maka penghargaan semakin besar, begitu pula sebaliknya, lantas apakah guru di tanah air tidak profesional? sebut saja gurunya Ibu Mus, gurunya Lintang di novel garapan Andera Hirata, apakah tidak cukup profesionalkah ketika akhirnya dia berhasil melahirkan orang sekualitas Lintang? 

Ah, entahlah...saya hanya heran, dari sisi mana orang melihat? ketika ada yang sukses tak pernah ditanya siapa guru dibalik itu, tapi ketika banyak terjadi penyimpangan, maka akan dikatakan..ini semua salah guru. Mungkin itulah ada kutipan: pahlawan tanpa tanda jasa" tapi saya tak suka dengan ungkapan ini, sebab seolah dengan ungkapan ini seperti ini mengaburkan sisi profesionalitas guru, yang menyebabkan kaburnya juga penghargaan untuk mereka. Menurut hemat saya, penghargaan itu perlu apapun profesinya, harga dari profesionalisme.


gambar hasil selancar dari google image
(bersambung) 

Jumat, 14 November 2014

Wonogiri i'm in Love (Love Karst, Love is You Ai)

Tempat-tempat itu..dulu hanya cerita, dan kau membuat cerita di atas cerita, nyata..di kedua mataku, arigato gozaimasu Ai .. ;)

Masih di jumat penuh inspirasi. Ini utang tulisan dari saya untuk saya (aneh kan?) dan sudah lewat sepuluh hari yang lalu, tapi terlanjur ngemeng sama suami mau bikin tulisan menarik tentang Wonogiri, dan mumpung belum lewat ampe sebulan, so tak ada kata telaat ^^. 

Tanggal dua November kemarin ceritanya hari lahir saya, biasanya sih enggak pernah ada perayaan apa-apa, ucapan dari orang spesial apalagi, boro-boro ucapan atau hadiah dari yang spesial, orang spesial yang dimaksud juga belum ada, meski orang tua dan murid, serta rekan sejawat tidak kalah spesial dari yang akan dimaksud dalam tulisan ini ke depan ;)

Alhamdulillah di usia yang sudah berkurang banyak kemarin saya sudah menggenapkan setengah dien, nah orang spesial itu hadir, dengan ucapan spesial saat pertama saya membuka mata, "Selamat Ulang Tahun Love, semoga jadi istri yang baik," duuh..nyesss deh sama ucapannya, sama doanya, plus sama perlakuan manisnya (enggak maksud provokasi jomblo-ers lhoo ;) ) 

Sedikit siang dia mengajak saya, hadiah ulang tahun katanya. Dia paham sekali saya suka hadiah yang seperti apa, padahal sih enggak peduli mau dikasih apa saja asalkan darinya saya senang sekali. Ternyata dia punya kejutan...motornya membawa kami makin menjauhi Surakarta menuju Wonogiri. "Wonogiri here i' come, jerit saya-dalam hati tentunya ^^

Perjalanan penuh perjuangan, dari Surakarta mesti harus lewatin Sukoharjo, baru Wonogiri. Wow, yang kebayang apalagi kalau bukan bakso..wkekekekq (maklum otak makanan) tapi ternyata suami mau menunjukkan sesuatu yang bikin saya bilang "wew" wew ya bukan wow.. dan eng ing eng...weeeeewwww..bentang lahan karst, weeeewwwww :D

kondisi topografis di Kabupaten Wonogiri
Pemandangan Pegunungan Sewu diliat dari kejauhan

Yup Wonogiri, dengan kondisi geografis merupakan pegunungan berbatu gamping, lahan karst, pahatan alamiah karst menjadi pemandangan kece di sepanjang perjalanan yang topografinya perbukitan bergelombang. Selama di motor berasa field trip bener dah sama suami (kebetulan latar belakang jurusan mirip-mirip--Ilmu Tanah-Geografi--mirip tho ;) ) so yang terasa selama perjalanan bukan seperti pasutri yang lagi honeymoon yang ngebahas cinta-cintaan-halaah hehe, yang ada di tengah terik mentari, di atas motor yang jalannya di atas topografi enggak rata, yang ada malah bla..bla..bla..doi jelasin tentang lahan karst, jenis tanah tuff, jajaran pegunungan sewu yang terlihat jelas dari kabupaten ini, enggak terasa sampai di rumah seniornya Mas Doni namanya, lokasi tepat di depan SMA 1 Wonogiri. 

Ngobral-ngobrol panjang lebar, sampailah kita harus meneruskan lokasi "field trip" ke Museum Karst, berlokasi di kecamatan Pracimantoro. Dan setelah hampir empat puluh lima menit motor melaju di atas bukit bergelombang, setelah pinggang pegal, dan lumayan parno kalau berpapasan sama truk, alhamdulillah ketakutan dan rasa letih terbayar saat kami sampai di kawasan GEO PARK ... di kawasan yang entah berapa hektar itu dengan budget murah meriah  (delapan ribu sudah untuk dua orang plus motor) kami bisa berkeliling sepuasnya di kawasan wisata edukatif itu. Wew gilingan bengeeet...selama saya kuliah lapangan di geograpi belum pernah deh njajah daerah ini.

Denah petunjuk kawasan GEO PARK

Di kawasan tersebut ada museum tentang karst, bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia! weeeww lagi ;), termasuk pembentukkannya plus bentukan-bentukan alam yang terjadi akibat pelarutan batu gamping tersebut. Nyaman udah pasti, edukatif juga, menarik untuk yang udah punya anak ;), yang masih bulan madu juga seru, adeeeemm... (ya iyalah AC) hehe kontras dengan suhu di luar yang lumayan buat produksi keringat makin banyak, tapi tidak disarankan buat yang pacaran wekekekkq :D. Sayangnya kami sudah terlalu sore sampai lokasi, museumnya sudah mau tutup (tutup jam 16.00).

Salah satu jenis batu gamping

Atoll (salah satu bentukan gamping)

Proses pembentukkan karst

Kalsit

Fosil proses pembentukkan marine
Ai ^^

Narsis boleh ya ^^

Figure cavers


Tidak hanya museum karst yang menarik, tapi juga beberapa goa-goa hasil pelarutan batu gamping, lagi-lagi karena hari sudah sore maka lain waktu saja menikmati goanya. Jam lima sore sampai di rumah Mas Doni lagi, istirahat sebentar, Mas Doni menyalakan mesin motornya, mengajak kami ke suatu tempat. "Kemana Ai? tanya saya bingung, suami saya masih belum paham akan diajak kemana, kami berdua mengikuti motor Mas Doni dari belakang, melwati jalan setapak bertopografi kasar. Dan tiba-tiba saja..jreeeng.. Waduk Gajah Mungkur.

Sunset Gajah Mungkur

Sorry, ga maksud pamer yaa ^^

Baju hitam, senior suami saya-Mas Doni ^^

Weeww lagi, waduk fenomenal ini, namanya saya sering dengar, fotonya juga baru saya lihat saat suami pernah penelitian ambil sampel air di sana, tapi liat jelas sekarang, baru di tanggal 2 November, menjelang magrib. Pemandangan dramatis, di tengah-tengah danau, matahari berwarna oranye perlahan tenggelam, sunset enggak cuma keliatan dramatis di pantai aja ternyata, di danau juga! weeew fantastis!

Sayangnya kemarau panjang membuat air waduk menyurut, informasi dari Mas Doni, waduk yang membendung sungai terpanjang di Jawa ini merupakan pemasok sumber air minum di Wonogiri, lah kalau surut sampai fosil-fosil desa yang pernah ditenggelamkan saat pembangunan waduk jadi terlihat itu piye?? parah banget kan surutnya berarti ... so poor :(

Waduk Gajah Mungkur, so cool, pemadangan yang bikin mata susah ngedip, tapi juga enggak lama, udah magrib kita harus kembali pulang ke rumah Mas Doni, sholat magrib, dan setelah itu lanjut ke Kota Sragen.. ;) sebelumnya jamuan makan malam menarik dari Mas Doni. Sejak dulu bagi saya karst selalu menarik, menarik sekali. ^^

At last but not least --Arigatone Ai .. Matur Nuwun buat Mas Doni ^^ next time mengagendakan caving di GEO PARK..semoga bisa tereksekusi :D

Happy Weekend ^^

Mimpi Itu Panjang, Iradah ...

"Ide itu bertebaran di muka bumi, seperti rahmat Allah yang bertebaran, hanya yang sulit adalah mengalahkan "alasan" --- dikutip dari kalimat Mbak Asma Nadia mix sama Ari Khusrini--

Well, sruput teh dulu, jumat pagi semangat kan? besok weekend, saatnya melakukan sesuatu yang menyenangkan. 

Tulisan saya diawali untuk menanggapi keluhan seorang teman-Iradah namanya, pipinya gempil dan senyum manisnya, bikin gemas setiap mencubit pipinya ;) . Mimpinya hebat, punya konsep juga, bakat ada, modal ada, semangat ada, mungkin tinggal sisi teknis yang belum lengkap (ada bumbu yang kurang)  ;) dia ingin jadi penulis..ya dan menurut saya dia sudah menjadi penulis, masalah sudah ada buku atau belum itu hanyalah kesempatan, tapi saya yakin dan percaya, bukunya sebentar lagi akan ter-display dengan apik di rak toko buku besar :D

Bukan curhat sih, tapi sekedar berbagi saja, keinginan saya menjadi penulis itu sudah ada sejak saya semester satu di kampus, waktu itu usia saya masih delapan belas (masih imuut kaan?? wkekeekek), ya, dan pertama kali saya verbalkan keinginan/mimpi dibumbui ambisi itu saat saya, Monos, Dewo duduk bareng di perpustakaan, ngerjain tugas plus ngerumpi, hingga terlontarlah kalimat : "Gue sebenernya pengen jadi penulis Wo, Nos," kata saya pada Dewo dan Monos, anak geografi yang udah enggak ada padanannya deeh.

Monos nyengir aja sambil manggut-manggit, modelnya Monos yang selow dan cenderung membahagiakan lawan bicara dengan tidak terlalu sering mendebat, berbeda dengan Dewo yang cukup reaktif, "Kalau Puput mau jadi penulis, mestinya dari sekarang udah mulai nulis, udah mulai kirim ke majalah, koran, penerbit, enggak cuma pengennya aja," jleeb..mendingan ditusuk pake tusuk gigi deh, daripada denger kalimatnya Dewo barusan, hehe.

Saya jadi ingat pepatah Cina, Obat Baik Pahit Rasanya, kalimat Dewo pahiiit rasanya, tapi mujarab hasilnya, meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Pasca kalimat Dewo itu saya bukannya rajin nulis, malahan makin rajin baca..lhooo? Ya, sebab setelah itu saya merasa memantaskan diri untuk menjadi penulis, bisakah? boro-boro ngirim tulisan ke majalah, koran, boro-boro nulis, bahkan mimpi jadi penulis, sebab saya rasa-rasa, perbendaharaan kata saya minim, apalagi diksi, apalagi teknik menulis, waduuh masih jauh.

Mencuri-curi waktu di perpustakaan, selain buat ngerjain tugas yang minimalis, malahan saya sering nongkrong di lantai 4, tempatnya novel-novel kece dipajang, tugas geografi gampaanglaah...dapet-dapet nilai B juga enggak apa, C juga masih tak apa, asalkan jangan D, heheh (jangan ditiru) 

Kali itu, saya tidak hanya menikmati cerita yang disuguhkan penulis di novel itu, tapi saya juga mulai belajar bagaimana si pengarang membuat karakter penokohan, alur, dan konflik, plus memperhatikan diksi yang digunakan. Mimpi saya reset ulang, punya keinginan saja tidak cukup, apalagi hanya dengan emosi, semuat butuh perencanaan yang matang plus amunisi :D

Pasca kuliah saya merasa punya waktu lebih luang, karena setiap pulang kerja paling saya tidur-tiduran, nonton televisi, daripada menghabiskan waktu dengan seperti itu kembali saya ingat mimpi saya yang tertunda. Bismillah...saya mulai membuat cerita, mengirim ke majalah, ikut lomba-lomba dan hasilnya....alhamdulillah kalah :D

Bahkan pembangunan sebuah Taj Mahal yang indah saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar, salah satu analogi itu yang menguatkan saya untuk sabar menulis. Kalah itu biasa, menang juga biasa, yang luar biasa itu kalau buku dipajang di Gramedia terus lebih luar biasa lagi kalau jadi best seller... wekekekekq ;)

Batu pijakan saya selanjutnya adalah pada tahun 2010, Oktober, saya diundang via media sosial untuk mengikuti workshop menulis, dari penulis ternama- Mbak Asma Nadia, nekat ikut, modal tabungan yang segitu-gitunya, merogoh kocek dengan cukup dalam, empat ratus ribu hanya untuk workshop yang cuma sehari (dari jam 09.00-17.00) tapi uang sebesar itu yang membuat saya meringis saya anggap itu sebuah investasi dari mimpi-mimpi panjang saja. Kalau kata pepatah jawa : Jer basuki mowo beo, artiin sendiri yaks..hehe, eeh enggak-deh, jadi artinya kurang lebih tidak akan ada kesejahteraan tanpa modal/biaya/etc..gitu deh...

Dari acara itu mata saya melek, gimana teknik nulis, bikin plot, alur, konflik, sampe deskripsiin cerita yang baik, penokohan karakter yang hidup, plus mental yang baik. Enggak moody-an, sabar nulis, merangkai cerita, dan yang terpenting banyak membaca.

Setelah acara itu, alhamdulillah, tahun 2011 saya ikut lomba lagi setelah melalui kekalahan berkali-kali (enggak kapok ceritanya, hehehe) alhamdulillah saya naskah saya diperhitungkan dalam sepuluh naskah favorit, dibukukan, di-display di Gramedia, senang bukan kepalang meski baru punya satu buku, itu pun meski belum best seller, tapi tak apa, selanjutnya...mimpi saya masih panjang dan berproses tidak mudah, tapi saya menikmati.

So, ini untuk Iradah, teman saya yang sholihah ;), semua bisa dicapai, bisa dipelajari, frustasi kala membuat cerita itu biasa, kurang semangat saat menulis juga biasa, tapi yang luar biasa itu kalau saat lemah dan kurang semangat timpa dengan multivitamin, ya buku-buku multivitaminnya, tak usah menunggu lama, nanti juga akan sehat lagi.

Iradah, next penulis inspiratif berikutnya, saya percaya itu, butuh kekuatan untuk mengalahkan berbagai alasan, butuh juga buku-buku sehat, berkumpul dengan mereka yang sudah hebat mengeluarkan lebih dari satu buku, perbanyak link. Sukses Iradah..love you  ^^

Rabu, 17 September 2014

I Love You, Because Allah

"Lo selalu inget Put sama kejadian yang dah belasan tahun silam...," kata Mila
"Ya, dan lo selalu lupa sama apa-apa yang udah lewat," jawabku kalem-kalem keren.


Cerita ini bermula dari senin kemarin. Mila-sobat saat masa-masa susah senang bahagia enggak ada batasan yang nyata (baca: jaman kuliah), dia datang ke rumah saya, membawa kabar duka. Ayahnya Sri --teman sekelas kami di kampus--meninggal dunia. So, tanpa pikir panjang (telepon suami dulu sih kalo mau ta'ziah, hehe), capcus lah saya n Mila ke Tanjung Barat (meski yeah, well, kayak kebiasaan yang udah-udah dibonceng Mila, dan ini beneran super enggak keren, hehe) 

Sampai Tanjung Barat, masih banyak tamu, jenazah ayahnya Sri sudah dimakamkan. Ketemu Sri dan keluarga, cupika cupiki, peluk-peluk, sambil ucapin belasungkawa. Sri alhamdulillah tabah, kondisi fisik dan psikisnya terlihat stabil. Dan di moment ini tanpa sadar kita nostalgiaan, cerita ngalor ngidul, pastinya ya itu mengulik lagi jaman-jaman susah senang bahagia enggak ada batasan yang jelas. 

Hm, dan ternyata kami sudah bersahabat dua belas tahun lamanya, didera beragam rasa, didera bermacam kesibukan. Ikrar cinta I love You because Allah yang dulu sering kami ucapkan saat bersama masih terngiang jelas,  serasa semua baru kemarin saja.

Agustus 2002, kami dipertemukan di satu ruang kelas. Ruang 315, yang kata senior waktu itu sih ruang kelas tersebut milik jurusan Geografi. Oh ..hooh lah, saya kan emang daftarnya jadi mahasiswa Geografi UNJ (bukan mahasiswa Sejarah, or yang laen, so dah pasti dikumpulinnya di kelasnya Geografi.  Di ruang itu, ketemu senior-senior yang beragam gaya, wajah, dan karakter. Dan yang terpenting adalah pertemuan dengan wajah-wajah baru satu perjuangan, duduk lesehan di bawah, tampang cupu, bau-bau SMA (termasuk saya).

Tanggal 15 Agustus 2002 tepatnya, saat briefing untuk persiapan MPA (Masa Pengenalan Akademik) ya sebenernya sih judulnya ospek... :P. Kirain sih yang namanya briefing itu paling cuma beberapa jam, enggak taunya seharian--(metong :P) penyiksaan dimulai dari jam delapan pagi sampai jam lima sore (sebel sama senior). Nah di hari itu munculah nama-nama mahluk yang cupu-cupu. Ada:  Ade siti, Ade Zaenal (Jae), Ade Setiadi (Gondrong), Dewo, Intan, Ira, Eka, Esti, Yayah, Ade Tarya (Tarjo), Akis, Sri, Ikhmah, Pati (udah almarhumah), Mae, Uswah, Atun, Nining, Rakhma, Arin, Bondan (kepala suku), Nita, Kokom, Iid, Hendra (Moncos/Monos), Denny, Hadi, Agus, Iwo, Sam, Ula, Elly, Siti, saya sendiri,  dan terakhir Miftah (masuk tanggal 16 Agustus 2002, mangkir di briefing pertama)

Selanjutnya, kami beradaptasi. Mulai dari yang sikapnya begini begitu sampai yang freak banget diliatnya. Tapi apapun itu tetap menyenangkan. Ah, dan kesenangan itu terus berlanjut, tidak hanya di bangku kuliah, di kantin, di perpus, di laboratorium alamnya geografi (kuliah lapangan) , di sekretariat BEMJ, di musholla, di kosan teman (numpang ngerjain tugas, makan plus bobo siang kalau nggak ada kuliah dan nggak ada rapat-rapat siluman ;) ) hingga di arena pendadaran (ruang sidang yang horror) 
Ya begitulah kira-kira. Selama empat tahun setengah, saya bareng mereka di satu gedung. Mahluk-mahluk cupu itu akhirnya bermetamorfosis jadi mahluk-mahluk keren berkarakter. Menapak jejak masing-masing. Satu persatu mengepakkan sayap di tempat berbeda. Kami terpisah jarak, dan ruang.

Kembali lagi ke Mila dan Sri. Dan saat-saat saya menukil kenangan bersama mereka, menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi kami. Bahkan sesuatu yang dulunya terasa pahit pun tetap menarik untuk diceritakan dan dinikmati. 

Hingga Mila mengatakan, "Lo selalu ingat apa yang pernah terjadi Putse,"
Sri hanya tersenyum genit, dan langsung saya tegaskan, "Ya dong, dan lo selalu lupa sama apa yang udah lewat, tapi kalau gue ungkap gini lo jadi inget lagi kan?" jawabku kalem-kalem keren.

Dan asal kalian tahu saja, cerita ini akan menarik untuk dibukukan, "Mahluk-mahluk Manis di Ruang 315."

--------karena kalian begitu berharga. Love you because Allah....itu yang sering kami ucapkan disela-sela kebersamaan kami-------------------------------------------------------------------------------------