Kata Pembuka

Assalamualaikum ....^^

Senin, 31 Januari 2011

Matematika + Guru Tidak Kreatif = Murid Stress!

Berawal dari Status Keluhan
Melihat status seorang teman di sebuah situs jejaring sosial yang mengeluhkan susahnya mengajar matematika karena muridnya goblok !
Kontan saja membuat reaksi dari beberapa kolega,sahabat,teman curhat,teman kecil, teman kampus yang bikin anteman-teman (berantem.red-bahasa jawa). Bukan berantem secara fisik tentunya, juga bukan berantem yang pakai amarah atau kebencian. Tapi berantem dengan kata-kata, ala polemik para politisi yang selalu mengundang reaksi kontroversial. Sebenarnya saya pun tidak terlalu bersemangat untuk menanggapi status keluhan, kata hati atau apalah, karena setiap orang berhak untuk berbicara, meski hanya via dunia maya. Namun yang membuat saya perlu menanggapi dan berpanjang-panjang membuat tulisan ini karena tema yang menarik.Ya. Tema yang sepanjang jaman dipuja dan dicela. Bahkan dijadikan ajang prestise oleh para orangtua, tapi dibenci oleh mereka para generasi muda yang merasa malas menghadapi segala keruwetannya. Dia adalah MATEMATIKA alias MATH, alias MTK (nyebutnya gini ya:EMTEKA) Hihihhi ga penting, ups sory apapun namanya dia adalah si Keren Metematika. Baiklah kita mulai saja pembahasan tentang si Keren Matematika (sejujurnya penulis tidak sepenuh hati menyebut kata keren untuk Matematika).
Kenapa Mata Pelajaran yang satu ini dibenci, ditakuti dan tidak diminati oleh sebagian kalangan ?
Ini jawaban penulis secara pribadi tanpa tendensius benci sama guru Matematika lho, tidak ! sama sekali tidak. Ini hanya pengamatan saya selama 12 tahun saya belajar dengan Matematika, yang malah bikin saya menjadi tambah goblok ! Padahal belajar itu adalah suatu pengalaman individual dari hal yang tidak tahu menjadi tahu. Namun belajar Matematika malah membuat saya dari yang tidak tahu menjadi makin tidak mengerti.
Emteka Harusnya Menyenangkan
Berangkat dari sebuah sekolah dasar ditengah metropolitan, sebuah ibukota negara. Di sebuah SD Inpres alias SD Negeri. Itulah awal ketidaktertarikan saya dengan Matematika, tentunya ini dialami oleh beberapa teman SD jaman saya, jaman teman saya, jaman bapak dan ibu saya, jaman kakek dan nenek saya, jaman kakeknya kakek saya dan seterusnya. STOP. Maaf bukan maksud saya membuat silsilah keluarga. Ok kembali ke topik, tentang Matematika kan ?? Oh ya EMTEKA.
Nah menurut saya pembelajaran EMTEKA di Negara yang bernama Indonesia ini malah membuat muridnya jadi goblok. Maaf. Ya walau ada juga peraih medali emas pemenang olympiade Matematika juga berasal dari Indonesia, tapi masih banyak sekali komunitas marginal si Matematika ini. Menurut saya Belajar Matematika di sekolah saya dulu (mungkin di beberapa SD Inpres lainnya) sangat membosankan, terlalu imajiner dan sangat kaku berkutat dengan angka-angka. Ingatkah kalian pertama kali belajar bagi-bagian, kita diminta mengisi serombongan angka-angka yang di strip-strip di per-per yang jelas luar biasa. Luar biasa bikin tidak mudeng tentunya. Mungkin akan lebih menyenangkan belajar bagi-bagian dengan konsep aplikasi langsung. Guru membawa permen coklat atau permen apalah yang bisa buat rame-rame. Siswa melihat dengan jelas cara pembagian, bahkan ramai-ramai memakan permen. Konsep bagi-bagian pun terjelaskan, indikatornya masuk. Sukses, siswa pintar dan senang karena makan permen. Guru nangis karena kantongnya jebol, Oh tidak,maksud saya guru merasa puas karena siswanya semakin pandai. Tapi apakah seperti itu yang kita rasakan ???? Jujur saja kalau saya tidak merasakah seperti itu, yang ada guru saya akan marah, membentak saya jika saya tidak bisa menyelesaikan rumus bagi-bagian itu. Saya goblok dan guru saya jadi stres.
Kedua, ketika kita pertama kali mempelajari berat dan isi seperti ons, gram, litter, kuintal,ton, dan konco-konconya. Lagi-lagi kita dipaksa untuk duduk manis, tangan dilipat seraya plototin sederatan angka-angka yang sedang dijelaskan oleh guru. Hasilnya ??? Puyeng-Teler.
Seru kali ya, jika murid SD dibawa ke pasar, memperhatikan orang para pedagang, melihat literan dan mencoba menggunakan timbangan. Makin asyik melihat berton-ton jeruk dipasar, sukur-sukur dikasih atu sama pedagang, atau berkuintal- kuintal cabe yang harganya lagi naik daun. Sekaligus mengasah kepekaan sosial, karena jadi tahu betapa menderitanya para emak karena harga-harga kebutuhan pokok yang pada nangkring itu. Setelah itu dijamin siswa langsung ngeh apa beda ons, gram, kuintal dan ton. Dijamin guru enggak bakal teriak-teriak ampe serek karena siswanya yang tadinya oon, sekarang jadi ngerti karena udah liat langsung.
Dan masih banyak lagi pembelajaran menarik lainnya. Tentunya ini harus serempak dilakukan di seluruh sekolah di Indonesia, sebab sepertinya yang melakukan pembelajaran menyenangkan hanyalah baru beberapa sekolah tertentu saja, yang mungkin memang secara fasilitas memadai dan secara kreativitas para guru pun mencukupi. Tentunya pembelajaran Emteka bukan lagi pembelajaran yang membosankan, menyebalkan atau apalah. Di jenjang sekolah lanjutan pun mereka tak akan merasa kesulitan untuk belajar Emteka karena konsep dasar sudah melekat dari SD.
Emteka si Prestisius.


Ketika penjurusan banyak para orang tua yang selalu menekankan anak-anaknya untuk masuk jurusan IPA, karena akan dianggap anak pintar jika bisa masuk IPA, sebaliknya akan jadi anak buangan jika masuk IPS. Jelas ini adalah anggapan yang SALAH. Saya sebenarnya ingin bercerita tentang otak kanan dan otak kiri, tapi ah mungkin lain kali saja, pada pembahasan selanjutnya, jadi lapar karena ingat kelezatan otak-otak ikan tenggiri - maaf lagi . Ya anggapan bisa Matematika tanda anak itu pandai adalah salah. Saya punya teman yang gape Matematika dan semua pelajaran IPA. Namun sangat mengenaskan nilai PPKN nya blweran, bahkan membuat puisi atau cerpen saja nyontek, urusan rumit dia jago tapi urusan remeh-temeh membuatnya sulit. IPA dan IPS itu sejajar. Coba lihat di keyboard PC or laptop anda, huruf A dan S itu bersebelahan ketika anda mengetikan kata IPA tak perlu jauh-jauh untuk mencari huruf S untuk mengetikan kata IPS. Itu dari keyboard saja lho, sudah sejajar. Maksudnya bahwa IPA dan IPS itu sama-sama istimewa. Bukan pula ukuran kalau anak IPS tidak pandai dan anak IPA pandai, yang jadi ukuran adalah sejauh mana dia menguasai pelajaran yang memang dia dalami. Bukanlah BELAJAR namanya jika tak menghasilkan proses apa-apa.
Tapi lihatlah Emteka saat ini seperti tak ada jiwa, beberapa pelajar memilih masuk IPA tapi ternyata banyak yang tak paham Emteka. Guru makin stres dengan banyaknya keluhan ini-itu. Tapi luar biasa ketika Matematika diujikan di UASBN maupun UN justru nilai sempurna berasal dari pelajaran ini. Nilai 100 berterbangan dimana-mana, di ijazah para pelajar yang bahkan dulu sering mengeluh. Angka 100 seharusnya sudah bisa membuat negara ini menjadi negara maju dengan berbasiskan teknologi. Nilai 100 artinya akan banyak para tekhnokrat dari negri ini. Kenyataannya nilai-nilai bagus hanya sekedar terpampang pada serentetan angka-angka di atas kertas berharga. Tak heran juga kalau akhirnya banyak sekali pelajar yang mengambil jalan pintas atau bahasa trendnya nyontek demi meraih nilai tertinggi untuk pelajaran yang satu ini.
Aplikasi teknologi ?? Nobel untuk para ahli Science? Ah lupakan saja, minim sekali penghargaan di negri ini untuk para ilmuwan bergengsi.
Lantas dimana makna Matematika ??
Maka jangan heran kalau banyak yang tak menyukai si prestisius Matematika, atau hanya cinta sesaat saja sekedar pengantar lulus ujian... 
Lowongan : dicari seorang guru Matematika kreatif, sabar, tidak gampang darah tinggian, motivator. Syarat ini berlaku untuk pria dan wanita. Syarat khusus : Untuk Pria: tidak suka memukul, tidak suka membentak atau mengeluarkan kata-kata kotor lainnya, sukur-sukur ganteng kaya Lee Minho, hehehe. Untuk wanita : tidak cerewet, tidak suka nyubit atau njewer kalau muridnya oon, sukur-sukur cantik kaya Rianti Catwright. Kalau ada yang sesuai degan lowongan itu maka segera daftar ke sekolah di seluruh pelosok Nusantara. Saya yang pertama kali mendaftar untuk...............menjadi siswa guru matematika keren itu, tak masalah walau harus mengulang dari dasar.
Cheers 

Allahualam Bishowab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar