Kamis, 06 September 2012

Catatan Kecil Jelang Pemilukada DKI Jakarta (Lee Myung-bak yang Menginspirasi, Sepintas Ahmadi Nejad Juga)



“It’s a sweet memory 30’years ago when I was young. But now I believe Indonesian together with Korean parteners are continuing the construsctions and bilateral cooperation for the betterment of Indonesia.”
 Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Korea Selatan ketika melintasi mulusnya tol Jagorawi, menuju pabrik Garmen Korea di kawasan Gunung Putri, Bogor. Kunjungan kerja tahun 2009 (artikel Rakyat Merdeka 2009, Kusmayanto Kadiman).
Lee Myung-bak, Presiden Korea Selatan, terpilih awal tahun 2008. Lahir di Osaka-Jepang tahun 1941 dari pasangan petani miskin. Ketika itu Korea Selatan masih di bawah kendali Jepang. Setelah itu mereka tinggal di Pohang-Korea. Hidup dari keluarga miskin, menyebabkan ia harus rela makan apa adanya, termasuk ampas gandum. Gigih, cerdas, dan pekerja keras, itulah sosok Lee muda. Hingga sejak duduk di sekolah dasar hingga universitas selalu melalui jalan beasiswa. Melanjutkan studi di Seoul National University, dan menjadi aktivitis permanen di sana. Hingga gara-gara statusnya sebagai demonstran yang pernah merasakan dinginnya lantai penjara, menyebabkan Lee kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Beberapa kali Lee selalu ditolak saat melakukan lamaran pekerjaan di perusahaan, salah satunya adalah Hyundai Group. Hingga suatu masa Lee melakukan protes dengan menulis surat pada presiden Korea kala itu. Dia menuliskan betapa sulitnya mencari lapangan pekerjaan hanya karena statusnya sebagai seorang demonstran. Dari tulisan kecil inilah yang akhirnya mengubah jalan hidup Lee. Dengan kerja keras dan kecerdasaannya hingga CEO Hyundai Group melirik dan memanggilnya untuk bergabung di Hyundai Group dan menuai karir sukses di sana.
Tahun 1992, Myung-bak terjun dunia politik praktis. Hingga ia akhirnya terpilih menjadi walikota Seoul. Setelah menjadi walikota pun jiwa aktivitisnya masih melekat dalam diri Myung-bak. Ia melakukan banyak perubahan dengan program-program Seoul sebagai kota ramah lingkungan. Banyaknya taman kota sebagai penyeimbang pembangunan yang terus menerus tumbuh, sarana transportasi yang memadai, taman bermain, fasilitas olah raga, sungai bersih, hingga pemanfaatan sungai sebagai prasarana transportasi dan rekreasi. Dengan adanya waterway di Seoul. Maka layaklah jika Myung-bak mendapat gelar pejuang lingkungan versi majalah TIME.
Awal tahun 2008 Lee Myung-bak berhasil melenggang menuju Blue House, melalui proses pemilihan yang demokratis. Sebuah perjuangan panjang untuk bisa menghasilkan sesuatu yang berharga. Tentunya bukan hanya dirasakan untuk pribadi, tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat luas.
Perjuangan Lee Myung-bak, seolah memaksa ingatan saya saat membaca artikel tentang gigihnya Presiden Iran Ahmadi Nejad yang juga berjuang mendobrak segala kebiasaan yang menghambat pembangunan bangsa. Lihat saja Iran sekarang tumbuh menjadi negara insustri baru yang telah begitu jauh melenggang meninggalkan Indonesia. Iran lepas dari pengaruh negara-negara kapitalisme. Iran mencoba berdiri sendiri. Muncul pertanyaan dalam kepala. Siapakah yang beruntung. Rakyat Korea dan Iran yang memiliki pemimpin sehebat Lee Myung-bak dan Ahmadi Nejad? Ataukah kedua pemimpin negara tersebut yang beruntung memeliki rakyat yang kooperatif dan mau bersama-sama melakukan perubahan? Ah, entahlah saya tak tahu pasti.
Kini saya bermimpi, andai Jakarta memiliki pemimpin berjiwa aktivis seperti Myung-bak. Berani mendobrak berbagai pernak-pernik kotor yang sudah melembaga di Indonesia, tentunya seperti harapan Presiden Korsel, Jakarta-Seoul bisa menjadi partner sejajar. Andai Sungai Ciliwung terberdaya seperti Sungai Han. Dimanfaatkan dengan baik sebagai sarana transportasi dan rekreasi. Andai fasilitas angkutan umum benar-benar mudah dan nyaman, hingga tak perlu lagi suara bising klakson dari kendaraan pribadi yang memekakkan telinga hanya karena tak sabar berada dalam antrian kemacetan panjang. Andai taman kota di Jakarta tersedia cukup banyak, sehingga bisa menjadi penyeimbang Jakarta yang terus tumbuh dalam pembangunan. Ah..andai, tanpa mengecilkan kota tempat saya dibesarkan dan tempat saya berpeluh-peluh mencari sesuap nasi. Saya akan memejamkan mata dan bermimpi lagi. Jakarta seindah Seoul. Sehingga tak perlu lagi ada kiblat Hallyu besar-besaran yang utopis karena Jakarta sudah mampu menjadi twin city Seoul. Bermimpi sajalah, meski tak tahu kapan terwujud. Namun bukankah semua yang sudah kita dapatkan di hari ini adalah hasil dari mimpi-mimpi kita di hari kemarin? Sama seperti mimpi Korea Selatan yang ingin mengungguli Jepang (negara penjajahnya) dan kini berbondong-bondong Seoul menjadi destinasi wisata, tak kalah dari Tokyo. Sekedar catatan saja, Korea merdeka dari penjajahan Jepang pada tanggal 15 Agustus 1945, hanya lebih dua hari saja dari kemerdekaan Indonesia.
So..tahukah Anda apa yang menyebabkan Lee Myung-bak merasakan memory manis saat melintasi tol Jagorawi? Hmm, sebab dialah yang menjadi kontraktor pembangunan tol tersebut di era pemerintahan Presiden Suharto, saat berusia 30 tahun. Maka perjalanan manis itu kembali mengingatkan atas hasil keringatnya membangun jalan tol yang mulus untuk Indonesia. Semoga Jakarta bisa belajar dari Seoul.  
(referensi: hasil selancar di Internet, artikel Rakyat merdeka-tulisan Kusmayanto Kadiman, yang dibukukan oleh PT Gramedia, dalam buku berjudul: Sains dan Teknologi, jika dalam tulisan ini ada data yang tidak benar, mohon diralat.)

Sabtu, 01 September 2012

Batas Atmosfer- part 2

"Mbak Nira?" panggil seorang pria. 
Aku menoleh, Ooh ternyata Rifqi, juniorku di kampus. Satu jurusan, sekaligus orang yang cukup tahu tentang daftar hitamku di mata para dosen. Aku tersenyum, dengan mimik heran dia menghampiriku. Adakah yang ingin dia sampaikan? Tentunya dia heran bukan kepalang. Mahasiswi bandel seperti aku yang dulu ia kenal, sekarang berada di tengah-tengah peserta seminar internasional, undangan khusus pula. Astagfirullah, lagi-lagi aku merasa ujub. Ah kenapa jasad ini senang sekali menyombongkan diri!
"Apa kabar Qi," sapaku duluan.
"Baik Mbak Alhamdulillah, wah Mbak Nira di sini sedang apa?"
"Hah?" Aku mengernyitkan kening, tentu saja tak perlu menjawab pertanyaannya.
"Ooh, maaf Mbak, maksud saya kita ketemu lagi di sini. Emm, Mbak dari instansi mana?"
Rifqi meralat pertanyaannya.
"Aku menjulurkan kartu pers. "Tugas kantor Qi."
"Ooh, jadi benar ya Mbak Nira sekarang wartawan. Kenapa banting setir? Enggak coba ikutan test CPNS Mbak?" tanyanya memberondong.
Aku tersenyum dan menggeleng, bersamaan dengan gelenganku, suara dari MC membuka seminar. Meminta kami segera memasuki ruangan. Dan perbincangan tak penting dengan Rifqi itu pun terhenti.
***
Namanya Rifqi Hisyam. Lulusan dari SMA unggulan di Jakarta. Disebut-sebut Rifqi akan menjadi kandidat calon ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan. Selain pintar, dia juga memiliki skill organisasi yang baik. Tapi nanti jika dia sudah semester empat. Sekarang masih semester dua, dan ini jadi proyek dan tanggung jawabku selaku ketua departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa Jurusan. Tugasku untuk Rifqi, Hafiz, dan Aryo adalah memberikan pembinaan yang berkaitan dengan kaderisasi kepemimpinan. Aneh memang, seorang perempuan sepertiku malah yang harus mengkader pria-pria hebat dan cerdas seperti mereka. Seharusnya ini adalah tugas dari Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, tapi sayangnya Pak Ketua terlalu mempercayaiku, memberikan tugas berat ini pada seorang perempuan yang bukan apa-apa, apalagi tidak punya prestasi akademik yang menonjol. Aku hanya khawatir tidak bisa mengimbangi mereka.
"Nira, jangan minder. Kamu enggak punya IPK tinggi, bukan berarti enggak punya pengetahuan bagus. Ini hanya masalah nilai di atas kertas. Aku yakin, Kamu mampu mengimbangi mereka. Saat ini aku hanya percaya kamu!" kata Arga, sang ketua organisasi memberiku semangat.
Ternyata kekhawatiranku jadi nyata. Masalah muncul. Bukan dalam kerja di organisasi, sebab selama aku mengkader mereka di dalam organisasi semua berjalan mulus dan baik-baik saja. Masalahnya muncul saat aku mengambil mata kuliah yang tercecer, sehingga harus bersama dengan para junior, tidak tanggung-tanggung, dua angkatan di bawahku sekalian. Mereka itu ya Hafiz, Rifqi, dan Aryo. 
Ketiganya kaget, saat tahu di angkatanku, hanya aku seorang diri yang harus mengambil mata kuliah bersama mereka. Parahnya lagi, dosen mata kuliah tersebut, bukanlah dosen yang menyukaiku. Beliau sepertinya memandang aku dengan sebelah mata. Mungkin karena usia yang sudah lewat batas untuk mengambil mata kuliah bersama mereka. Pernah aku dibentak di dalam kelas oleh dosen tersebut. Pasalnya sederhana menurutku, tapi tidak untuk beliau tentunya. Sepekan yang lalu aku tidak masuk kelas. Memanfaatkan jatah absen 3 kali untuk mengikuti aksi turun ke jalan, memprotes kenaikan harga BBM bersama rekan-rekan mahasiswa yang lain. Entah siapa yang memberikan laporan tak penting itu pada dosenku, hingga berita aku turun ke jalan sampai ke telinga beliau. Lantas dengan kasar beliau mengatakan bahwa aku sudah menodai amanat yang diberikan oleh orang tuaku. Bukankah setiap orang tua menginginkan anaknya kuliah dengan manis tanpa ikut kegiatan yang aneh-aneh? apalagi jika bersifat mengancam akademik, jiwa, dan raga. Dengan berapi-apinya dosen tersebut menunjuk-nunjuk wajahku, lalu mengungkit dosa-dosaku di masa lalu. Seperti absen-absen yang pernah aku lakukan. Huh..lelah, bukankah mahasiswa yang lain juga melakukannya? memakai jatah absen, bahkan ada yang mereka manfaatkan untuk sekedar nongkrong di "base camp" masing-masing, atau malah bersantai di rumah. Tapi aku? Apa aku salah pakai jatah absen untuk ikutan turun ke jalan, bersama mereka yang masih memiliki idealisme, ciri khas mahasiswa. Mahasiswa yang darah terlalu panas. Seperti hari di mana aku dibantai oleh dosen tersebut, darahku panas hingga ubun-ubun. Namun aku tak punya nyali untuk menjawab, atau sekedar menatap wajahnya, aku tak sanggup. Aku hanya mampu tertunduk lesu, bak pesakitan yang rela terima tuduhan dari jaksa. Setelah ritual pembantaian itu selesai, Rifqi yang duduk di depan menoleh ke arahku. Sorot matanya iba, tapi mungkin juga kecewa. Ternyata senior yang mengkadernya selama ini tak sebaik dari apa yang ia bayangkan. Sementara Rifqi selalu berusaha menjadi mahasiswa manis, anak mas para dosen. 
Aku babak belur saat itu. Seratus menit perkuliahan, sepertiganya dipakai untuk melucuti semua dosa-dosaku. Aku dituduh sebagai mahasiswa lilin. Yang hebat dalam organisasi tapi babak belur dalam studi. Allah...ini memang salahku, manajemen waktuku buruk! Hasilnya luar biasa, setelah hari itu, Rifqi perlahan menjauh dariku, menjauh dari organisasi. Dia memilih untuk mendekati para dosen, mengerjakan setumpuk project penelitian ke berbagai daerah. Hingga Rifqi lulus cepat, akselerasi. Lagi-lagi nasibnya beruntung, lulus kuliah, lulus juga test CPNS nya di LIPI, bergengsi bukan? Sementara saat itu aku masih tertatih menyelesaikan skripsi. Hingga aku lulus dengan waktu yang nyaris habis, Hampir saja aku di DO jika terlambat satu semester lagi.
***
Dan hari ini sorot mata Rifqi berubah lagi padaku. Berubah heran tepatnya. Mungkin heran denganku, senior yang ia pikir sudah memiliki masa lalu suram, kini malah berada di tengah-tengah mereka yang mungkin riwayat akademiknya cemerlang. Salah satunya seperti Rifqi yang telah menamatkan S2 nya di Boston, USA. Dua tahun belakangan dia tidak terlalu banyak tahu tentang perkembangan di Indonesia. Dia tak tahu aku kini menjadi jurnalis di sebuah surat kabar nasional, dan memang tak perlu tahu. Biarlah dia cukup tahu aku yang kacau dan tak bisa dijadikan teladan. Terserah jika ia masih memandangku dengan sebelah mata.  Bahkan ia nyaris tak percaya aku ada dalam seminar internasional ini. Sebab memang tidak mudah untuk bisa berada di tengah-tengah komunitas para ilmuwan hebat ini.Ups..Astagfirullah, lagi-lagi kesombongan itu mencoba mendekapku!
***
Bersambung .........

Modifikasi Bahasa (Cemungutt Kaka ^_^ v)



“Cemungutt ya kakaaaaaa”
“Wow itu orang keceeeee badai!”
“Aiihh, gw RT sama lu!”
Apa kabar sahabat? Kali ini saya mengajak untuk menyermati bahasa prokem (pergaulan) yang sudah mewabah di Tanah Air tercinta. Andai HB Jassin atau JS Badudu masih ada tentu akan menangis melihat fenomena bahasa pergaulan yang sudah terombak oleh mulut dan tangan yang begitu kreatif. Entah darimana awalnya. Awal tahun 2008, tepatnya pertama kalinya saya terjun ke dunianya para remaja. Sejak saat itu saya terbengong-bengong dengan bahasa remaja yang porak poranda. Fenomena ini sah-sah saja, bebas, dan enggak dosa malah. Selama bukan bahasa umpatan atau bahasa kasar yang menyebut-nyebut hewan berkaki empat. Tapi lihat saja betapa asingnya saat pertama saya mendengar kata “curcol” oooo ternyata itu akronim dari curhat colongan. OMG (Oh My God) awalnya saya ditertawakan oleh mereka (komunitas putih-abu-abu), “Ah payah ibu enggak gaul, masa gitu aja enggak tahu!”
Kesel, iyaaaalah, well saya kuliah capek-capek kirain bisa langsung memberikan materi dan diterima oleh mereka, ternyata tidak hanya sebatas itu saja. Segera saya harus banting stir untuk mempelajari “bahasa” mereka. Urusan pelajaran, KBM, papan tulis, spidol ditanggalkan dulu. Saya mulai dengan mendengarkan, menyimak, dan meniru bahasa mereka. Setidaknya untuk awalan.
Porak-poranda, itu kesan saya terhadap bahasa pergaulan saat ini. Iyalah wong bahasa bagus-bagus diubah jadi aneh. Semangat jadi cemungutt, kece ditambahin badai, hello??? kenapa pakai kata badai sih, lupa ya kalau lagunya Chrisye kan Badai Pasti Berlalu (hehee apaaa coba :D) Nah kalau kece badai berarti kecenya sementara dong (ups sory enggak perlu dibahas) Nah ada lagi bahasanya komunitas abu-abu jaman sekarang yang bikin ngakak. Gara-gara terlalu bersahabat dengan media social twitter, di sana ada RT artinya Re Twit, itu untuk men-twit (menuliskan ulang) jika ada kalimat yang dia setujui dari temannya (eh, saya rasa sobat-sobat sudah banyak mengerti hal ini) Nah yang bikin ngakak ketika saya sedang berada dalam kelas, sebagai guru yang baik dan benar, patuh dan taat pada Pancasila dan UUD 45, saya sharing pengalaman, hingga kata mutiara (cieeeeh..hehehhe, enggak nyambung!) terus ada seorang siswa yang nyeletuk “RT sama Ibu”. Awalnya saya terbengong-bengong, RT? Perasaan saya belum jadi ibu RT deeh (kan belum nikah, bukan promosi lho yaa, hehhe) Tapi seketika saya langsung nyambung, ooh maksudnya dia sepakat alias setuju dengan kaimat yang saya kemukakan barusan. OMG ..geleng-geleng kepala. Nah yang bikin freak saat mendengar kalimat Keppo. Keppo itu artinya pengen tahu. Ini bahasa dari mana lagi asalnya? Proto melayu, melayu madya, sampai bahasa daerah juga kayaknya enggak ada tuh kata Keppo yang artinya pengen tahu. Misalnya gini ada si X nanya “ eh itu cowok dah punya gebetan belum?”
Terus si Y bilang, “Aiihh, keppo banget si lu, naksir yaaa?”
Mungkin kalau jaman saya masih SMA dulu paling saya bilang, “Ah mau tauuuuu ajah.” Tapi sekarang udah beda jaman Men!”
Padahal dulu aja entah eranya siapa, yang pasti saat saya dilahirkan di dunia tuh bahasa udah ada duluan. Seperti sebutan bokap untuk ayah, nyokap untuk ibu, bonyok untuk ayah dan ibu (waduh kacau ya J ), boil untuk mobil, dan sebagainyalah. Makanya bukan salah juga kalau remaja sekarang jadi makin berkreasi dan menemukan istilah-istilah baru untuk memudahkan mereka berkomunikasi. Sebab tentunya dengan sandi-sandi tertentu menyebabkan mereka nyaman berkomunikasi. Ah, di sini bukan kapasitas saya bicara tentang ilmu komunikasi. Hanya saja kepedulian saya pada komunitas putih- abu-abu yang akhirnya jadi banyak tidak tahu bahasa baku yang mereka harus tuntaskan di ujian nasional. Maka itu jika memperhatikan nilai ujian nasional, terdapat angka fantastis untuk bahasa Inggris dan Matematika, tapi sebaliknya nilai menyedihkan ada pada mata pelajaran bahasa Indonesia (yang notebenenya adalah bahasa sehari-hari kita).
Hm, pastinya guru bahasa Indonesia mempunyai PR yang berat, apalagi hama penganggunya adalah media social baik di internet maupun alat komunikasi lain, belum lagi tayangan di televisi yang masih sangat selektif untuk ditonton.
Menurut saya pribadi sih, tak ada yang salah dengan kreativitas. Apalagi maksudnya untuk membuat sesuatu terasa lebih menyenangkan. Pastinya dengan bergaul ala bahasa yang mereka ketahui cukup menyenangkan bukan (buat yang nyambung-hihihi) Tapi, bukan berarti itu menjadi  buta pada bahasa asal kita. Sebagai identitas pribadi Tanah Air tercinta.
So…cemunggut yach J hehehee
Salam Putih-Abu-abu :D

Kamis, 02 Agustus 2012

Novel Elang dan Bidadari sudah tersedia di Gramedia Matraman-Jakarta.

Alhamdulillah sudah terbit novel dengan nilai-nilai islami yang begitu universal dan menyentuh. Baru hari ini saya melihat dengan jelas sudah mejeng di toko buku Gramedia Matraman-Jakarta Pusat. Novel berjudul : Elang dan Bidadari. Kurang lebih begini sinopsisnya. Selamat menikmati.
***

“Jingga, kau pasti tahu maksudku kan? Apa kau sudah mencuri tulang rusukku? Jika ya, tolong simpan sejenak, hingga aku menemukan jalan agar kita bersama. Aku tahu selama kita berbeda agama, kita tak akan
bisa bersama, begitukan?”

“Kim Young-Han, tidak usah mempermainkan hatiku ataupun memberi harapan untukku. Jika kau masih berpikir untuk bisa bersamaku dengan masuk Islam, itu akan merusak niatmu. Pelajari Islam yang benar. Jika ada takdirmu yang harus kau jalani bersamaku, niscaya takdir itu tak akan berubah!” Serak, Jingga berusaha menahan tangis, semua rasa bercampur menjadi satu.

Young-Han membisu memandang taksi yang mengantar Jingga. “Ya...jika takdirku ada bersamamu...maka takdir itu akan kupinta untuk bisa bersamamu,” lirih Young-Han

***

Jingga, muslimah asal Indonesia yang mendapatkan kesempatan mengikuti program budaya Korea yang diadakan oleh HUFS (Hankuk University Foreign Studies), di Seoul-Korea Selatan. Jingga berusaha untuk tetap komitmen dengan norma dan nilai yang ia anut, meski di negara yang setengah penduduknya tidak beragama. Tapi di tengah-tengah miskinnya kehidupan Islam di sana, ia malah mendapat pelajaran berharga tentang nilai sebuah kerja keras yang mutlak beriringan dengan doa.

Kim Young-Han, pria sedingin es di kutub. Lulusan Universitas Paris 1 - Pantheon Sorbonne, Prancis, pengalamannya selama di Prancis itulah yang mengenalkan pada ajaran Islam dan awal ketertarikannya terhadap agama tauhid ini. Tapi ketertarikannya kepada Islam selama di Prancis tidak lantas mudah menjadikannya sebagai mualaf. Pulang ke Korea Selatan, ia masih tetap tidak memiliki pegangan agama yang jelas dan kembali menjalani hari-hari beratnya bersama dendam dan kebencian di masa lalu.

Di tanah ginseng itu mereka bertemu, berbenturan karakter tapi juga membuat untaian kisah yang akan banyak menuturkan tentang cinta yang sebenarnya. Akankah pertemuan itu membawa sebuah takdir yang sama dan bermuara pada cinta-Nya? Ataukah hanya sebagai mimpi kilat dan bersitan luka akan takdir yang harus mereka jalani masing-masing. Kisah ini tidak hanya bertutur tentang cinta, tapi juga kasih sayang mendalam antara keluarga, persahabatan, dan mimpi. Karena mimpi memang mutlak untuk terus diperjuangkan.

--------------------
Novel Terbaru Republika " Elang & Bidadari" Karya Puput Sekar.
Harga Rp. 55.000,-

Jumat, 08 Juni 2012

Ini untuk yang ikutan acara trip ke Bromo ya, maaf mau kirim ke email masing2 ribet nyarinya hehe (alasan)
Begini rencana rangkaian perjalanannya:

  1. Jalan dari Jakarta Tgl 30 Juni, sekitar jam tiga sore dari stasiun senen, naik kereta Kertajaya ke Surabaya, estimasi biaya sekitar Rp 50.000, nyampe sekitar jam empat pagi, kita rehat di masjid stasiun (girsl jadi satnite-an di kereta gitchu..hhiiihi) :P
  2. Bada subuh kita Otw ke Bungursih pakai angkot, estimasi biaya Rp 5000, Nanti setelah sampai terminal kita cari bus jurusan Jember, turun di Probolinggo, kalau AC Rp 25.000, kalau Non AC sekitar Rp 15.000 (terserah pilih mana)
  3. Turun di terminal Banyuangga Probolinggo, nak Elf ke desa Cemoro Lawang, biasanya tarifnya Rp 25.000, tapi karna kita turis asing berdoa aja mudah2an enggak dikasih mahal yaaaaa. :)
  4. Siang-siangan kita nyampe di penginapan murah(insya allah lagi diusahain saam om-ku yang tinggal di sana), range harga sekitar Rp25.000-50.000
  5. Kalau mau istirahat silakan, kalau mau eksplore pemandangan di Cemoro Lawang juga ga papa, tapi ingat. pagi sekitar jam tiga dini hari kita akan otw ke bromo untuk liat sunrise :)
  6. Jam tiga dini hari kita  otw ke Pananjakan-Bromo naik jeep, harga sewa sekitar Rp 400.000 nanti dibagi sejumlah orang, sampai saat ini ada sekitar dua belas orang yang masuk ke list.
  7. Di Bromo sampai sekitar jam dua belasan, siang langsung cao ke Surabaya, sebab sore kita udah otw ke Jakarta
  8. Pagi hari sekitar jam delapanan, sampe di Jakarta.

Berikut daftar pribadi yg dihimbau untuk dibawa:
  1. Jaket tebal, secara disana dingin banget, kalau kita kasih gabus mungkin efeknya jadi kaya salju kali yaaa...wkwkwkw
  2. sarung tangan, disana ada sih yang jual, tapi mahal bnaget bisa nyampe Rp 20.000 padahal sarung tangan kuli :D
  3. topi bulu, kupluk or sejenisnya, penghangat kepala
  4. obat2an pribadi, jangan sampe bengek enggak bawa obat, ntar kita bingung lagi,  :)
  5. kaus kaki

Nah untuk makan enggak usah bingung ya, karena di sana harga lumayan nguras kantong jadi kita menyiapkan lauk-lauk2 yang awet. Nanti kita tinggal patungan aja klau udah jadi, dan paling2 kita ntar beli nasi putih aja :)
So yang pada mau ikut tolong fixasi lagi tgl 15, sebab tgl 20 uang tiket sudah masuk dan dikumpulkan pada mbak trini (085880846854) insya allah tgl 23 akan dibelikan tiket.

Berikut koordinatornya :
Transportasi : Mbak Mala dan Mbak Trini Kusmiah (ntar add fb-nya ajah ya)
Akomodasi : Puput
Konsumsi: Fitri Jumiati

Nah begitulah teman. Sampai saat ini peserta terdaftar sekitar ..(ngg berapa ya?) ini daftarnya: chekidot:
  1. Trini Kusmiah
  2. Mala
  3. Fitri Jumiati
  4. Puput Sekar
  5. Niar
  6. Rida Nurfatma
  7. Sri Lestari
  8. Nenty
  9. Ira Setiawati
  10. Lia (dalam konformasi)
  11. Sara Angggraini
  12. Temannya Kak Sara (dalam konformasi)
  13. Tadinya ada Munaa( udah kedepak dia) duiiiiiingggg duuugh...doi mau ke Semeru ciiiing :) ketemu di Bromo katanya :D
Otre, semoga acara trip n tafakur alam kita berjalan dengan sukses ya girls...intinya : Siap capek, susah, dan senang ...iyaaalahh namanya aja backpackeran hihihi dengan dana minim ..otre. dan mohon di tag ke teman masing2 yaaaa  ^^V


(sekedar info, bulan oktober itu ada Festival Krakatau, mungkin Krakatau dan Lampung akan jadi destinasi menarik yng akan kita masukan dalam daftar liburan selanjutnya...So..what a think :) )

Selasa, 05 Juni 2012

Batas Atmosfer


“Ukhti-saudari-Nira apa kabar? Wah, aku suka baca cerpen dan puisimu di majalah Muslimah, tapi kok ABG banget ya? Kenapa enggak angkat cerita tentang perjuangan saudara-saudara kita di Palestina? Lain kali kalau buat cerita itu yang keislamannya kental dong!” ucap Diandra berapi-api.
Diandara, teman kampus, beda jurusan dan fakultas. Jilbab lebar berbodir dua bulan sabit bertolak belakang. Ya Dian memang terlihat makin sejahtera. Anaknya sudah dua, keluarganya makin bahagia. Itu yang tampak pada penglihatanku. Tapi tetap saja Dian yang kukenal dulu, masih sama dengan Dian yang kukenal sekarang. Sama! Sama-sama senang memberikan vonis yang tak seharusnya dia lontarkan. Menyesal aku bertemu dengannya di resepsi Afifah. Aku tersenyum, berusaha tulus. Tapi terlalu munafik rasanya bagiku bisa tersenyum tulus. Aku sudah kecewa dengan orang-orang sepertinya. Yang ada senyum ini tak bertahan lama.
“Well, apapun yang kutulis, kurasa masih dalam koridor keislaman. Makasih sarannya, nanti kupertimbangkan. Dian, pulang dulu ya, aku masih ada acara!” ucapku cepat. Tapi tanpa sadar tangan ini terkepal dengan kuat. Astagfirullah, aku tak boleh membenci orang sesholehah sepertinya. Sholehah? Ah ya tentu saja itu yang terlihat dari luar. Jilbab lebar melambai-lambai, gamis longgar, dan wajah tanpa make up. Yang terakhir sama denganku, tapi jilbab yang kupakai tak seberapa lebar, hanya sebatas terjulur menutupi dada, baju yang tidak ketat, meski tidak bisa dikatakan longgar seperti bajunya. Untuk ukuran penampilan, muslimah sepertiku sedikit modis, kata sebagian orang di sana. Tapi lihat Diandra, penampilannya saja jauuh dari kesan modis. Rapi dan bersahaja. Tapi? Mulutnya? Mengapa selalu mengatakan sesuatu yang tak enak terdengar oleh telinga. Begitukah perilaku wanita sholehah?
Cepat kuberhentikan taksi dari depan gedung resepsi. Hari ini bertemu dengan banyak kawan lama. Reaksi mereka beragam, ada yang menyambut baik, tapi ada juga yang menyambut kurang mengenakkan, salah satunya ya Diandra tadi. Ibu dua orang anak. Mulanya dia menyapaku, menanyakan kabarku, parahnya menanyakan statusku yang masih adem-ayem menikmati masa lajang. Dia bahkan memberika sedikit kutum-kuliah terserah antum(kamu), sebab memang tanpa kuminta sesuka hati saja dia memberikan percikan kuliah kepadaku yang masih melajang. Intinya, tak baik menunda-nunda urusan ibadah. Jadi harus disegerakan. Pikirku, memang siapa yang menunda-nunda? Sampai akhirnya dia mengkritisi penampilanku yang tampak modis. Berubah! Itu katanya. Padahal menurutku, yang kukenakan ini masih dalam batasan sesuai Islam agamaku. Bukan hanya agamanya saja. Karyaku juga tak lepas dari kritik pedasnya. Ya seperti yang dia katakan tadi, terlalu ABG, picisan, keislamannya kurang kental, hanya menyentuh remaja, padahal remaja juga harus tahu bahwa di bumi Palestina sana umat Islam terluka. Aku sepakat, tapi tak begitu. Kalau dia bisa, coba saja dia buat duluan, nanti aku tiru. Dulu waktu masih kuliah juga Diandra pernah mengkritisi buku yang kubaca. “Hari gini masih baca novel? Masih jaman?” tajam dan menukik kata-katanya, menyayat telingaku. Tapi enteng dan ringan sekali dia mengatakan itu, tanpa butuh jawabanku, dia masuk saja ke mushola fakultas, untuk sholat zuhur. Aku hanya bisa mengelus dada. Memangnya kenapa dengan membaca novel? Sekali lagi, toh yang kubaca bukan novel porno! Diandra, satu muslimah yang telah membuatku kecewa. Dan ternyata, di luar sana ada banyak sosok seperti Diandra yang juga membuat hati ini harus kebal dengan perilaku buruk mereka. kadang kuberpikir, mereka manusia juga, bukan malaikat.
Kali kedua pasca kampus, aku kembali dikecewakan dengan perilaku seorang teman. Dia dari salah satu komunitas yang awalnya kupikir baik. Menegakkan yang hak dan yang batil. Orang yang cukup terpandang dan disegani di kalangan kami. Tapi nyatanya? Perih untuk diingat, tapi terpaksa memory ini harus kembali mengingat. Waktu itu aku jaga di posko bencana alam, saat kebanjiran. Bapak bersahaja itu mendatangiku, mengatakan bahwa aku harus selektif untuk memberi bantuan, sebab dari golongan”kami” ada banyak juga yang terkena musibah, “mereka” harus diprioritaskan. Sadis! Ini bencana alam, mengapa harus memilih-milih untuk membantu teman. Kuelus dada, kok begitu.
Selanjutnya di lain waktu, ada seorang teman yang menawarkan pekerjaan untukku, aku tolak dengan halus. Alasannya, aku juga sudah bekerja, kemudian ada temanku yang begitu membutuhkannya, tapi dia bertanya, Apa temanmu dari golongan “kita”? aku jawab bukan. Maka dengan berkelit dia menolak. Suruh saja cari pekerjaan di tempat lain, itu katanya. Aku menggigit bibir, Ya Allah..mengapa dengan mudah”mereka” mengkotak-kotakkan seperti itu? Ah, jika dilist banyaklah perilaku yang tak pantas dilakukan oleh”mereka”, nyatanya di kantor, aku pernah difitnah juga oleh orang yang kupikir sama sepertiku, dia berjilbab rapi, kata-katanya begitu halus dan lembut, tak ada yang menyangka dia suka lain bicara. Di sana beda-Di sini beda, asalkan dia senang.
Dan kali ini mereka juga berkata aku sudah jauh berubah, mulai menyukai film, lagu yang tak seharusnya dinyanyikan. Memangnya mereka tahu tentangku? Hanya dari film dan lagu mereka dengan mudah memvonis keimananku? Memvonis bahwa aku sudah tak tergabung lagi dalam komunitas mereka. Tak peduli komunitas apa, toh aku masih muslim, Insya Allah tetap muslim sampai akhir hayat. Yang menegakkan sholat, tidak menyekutukan Allah, dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusannya. Mereka tak perlu tahu, cerita yang kutulis memang ringan, berbau cinta dan remaja, tapi itulah pesan yang paling mudah disampaikan untuk remaja. Mereka juga umat, yang harus terkena percikan pengingat. Terserah, aku dikatakan sudah tak tergabung dalam komunitas, memangnya mereka tahu apa yang kulakukan? Padahal mereka juga tidak pernah bertemu fisik denganku, kecuali di resepsi ini. Mereka menilaiku hanya karena dari situs jejaring social, saat aku membagi aktivitasku yang aneh-aneh, padahal bisa saja bukan sebenarnya. Aku seorang penulis, apa saja bisa kutuliskan. Tapi dengan mudah mereka mengetuk palu, memvonis dengan keras. Mengatakan aku sudah banyak berubah.
Ah, “mereka” mengecewakan! Lihat saja, waktu itu seniorku sakit keras, liver selama tiga bulan, tapi apa yang ia dapat? Senioirku itu sama sekali tak dijenguk oleh “petingginya” bahkan mengatakan semoga lekas sembuh saja tidak. Lagi-lagi aku geram. Mereka selalu menganggap diri mereka berbeda, merasa baikkah? Atau paling benarkah? Entah aku tak tahu. Tapi yang pasti kelakuan mereka sama sekali tidak bisa dijadikan teladan. Aku juga tidak menggeneralisir, tidak. Di antara mereka juga ada orang sholeh yang benar-benar sholeh. Yang tidak hanya kesholehan secara vertikal, tapi juga sholeh secara sosial. Tapi yang muncul kepermukaan sayangnya adalah orang-orang yang perilakunya tampak baik dari permukaan. Bibirnya begitu mudah berbicara tentang nilai-nilai kebaikan, tapi aplikasinya? Jauh dari sikap professional, kebaikankah itu?
Aaaah, berbicara tentang “mereka” tak akan pernah ada habisnya. Tapi yang jelas, apapun yang mereka tuduhkan padaku, yang mereka voniskan padaku, tak akan menyurutkan langkahku untuk tetap bergerak, meski kata mereka aku tak tergabung dalam komunitas. Itu kan katanya, tapi menurutku, aku masih bergerak menyerukan kebaikan bersama ribuan tentara Allah yang lain, yang tak lagi sesumbar dengan banyak embel-embel sebutan ini-itu, yang tak resah meski telah dianggap tidak masuk dalam komunitas. Sebab Allah Ghoyatuna.
“Mbak sudah sampai,” tiba-tiba supir taksi merobek lamunanku. Aku tersenyum, sambil memberikan dua lembar lima puluh ribuan. Sesuai dengan yang terlihat pada argo di dashboard mobil.
Dan kulangkahkan kaki menuju gedung bertingkat tujuh belas. Ada banyak puluhan orang berbeda bangsa dan agama di dalam sana. Kini saatnya kutunjukkan eksistentensiku sebagai seorang muslimah. Muslimah Indonesia.
***

Jumat, 01 Juni 2012

Indonesia Negara Apa?

 Jadi Indonesia negara apa? Negara berbasis Pancasila? Sila ke berapa? Bahkan dari sila pertama sampai lima saja sekarang samar-samar  di Indonesia. 
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Esa, berarti tidak menyekutukan Tuhan. Esa, satu. Tiada Tuhan Selain Allah, Laaaillahaillaha ..... Tapi mana yang mengesakan? Indonesia negara mistis, carut marut bidah, tahayul dan khurafat mewarnai kehidupan. Contoh kecil, mau ujian nasional saja pakai ritual mandi kembang. Lalu di mana letak Keesaan Tuhan? Sinkretisme (pencampuadukkan agama) terjadi di mana-mana. Budaya yang mengarah pada ritual kemusyrikan menjadi aroma menyengat di penjuru pelosok negeri, atas nama PELESTARIAN BUDAYA.
Sila Kedua: Kemanuasiaan Yang Adil dan Beradab. Apanya yang beradab? berbagai macam penembakan liar, pengeroyokan terhadap massa tertentu, saling bantai, mutilasi, bukankah itu semua yang menjadi perbincangan hangat media sehari-hari? Media kita lebih senang dengan mengekspos berita kriminal dan berita kebiadaban yang dilakukan anak bangsa.  Maka terkenalah Indonesia ke dunia Internasional, bahwa Indonesia adalah negara pelanggar HAM. Luar biasa, padahal awak media, sebagian besar berkebangsaan Indonesia, tapi merekalah yang mengkspor berita itu. Dari situ membuat kita miris, kitakah bangsa yang beradab? Adil? sebauh keadilan kah jika ada WNA yang kedapatan membawa kurang lebih empat kilogram narkotika, maka mendapat grasi dari presiden? Sebuah keadailankah jika ternyata orang yang mencuri satu buah semangka dijatuhi hukuman kurungan? keadilan kah jika ternyata seorang koruptor yang sudah merugikan keuangan bangsa hanya dijatuhi hukuman penjara paling lama hanya lima tahun penjara. Lalu di mana letak keadilan?
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia? persatuan yang mana? nyatanya kita negara yang mudah terprovokasi, kita bukan negara yang dewasa dalam menghadapi sebuah konflik. Dipicu saja dengan isu antar agama, atau antar suku, maka nyalanya bagai api kecil yang terpelantik di pom bensin. Atas nama kesatuan dan persatuan yang mana? Isu toleransi yangs edang menghangat, malah bias. Toleransi yang artinya saling menghargai berubah menjadi saling merasa benar sendiri, merasa benar dengan pendapat yang hanya disertakan emosi pribadi. Perdebatan agama yang makin tak beruujung dan menimbulkan konflik berkepanjangan.
-to be countineud)

Ketika Sulit Mengelola Ide

Malam ini saya hanya sekedar berbagi  ringan tentang permasalahan ide. Tulisan ini didasari oleh pengalaman pribadi yang bertahun-tahun...