Kamis, 02 Agustus 2012

Novel Elang dan Bidadari sudah tersedia di Gramedia Matraman-Jakarta.

Alhamdulillah sudah terbit novel dengan nilai-nilai islami yang begitu universal dan menyentuh. Baru hari ini saya melihat dengan jelas sudah mejeng di toko buku Gramedia Matraman-Jakarta Pusat. Novel berjudul : Elang dan Bidadari. Kurang lebih begini sinopsisnya. Selamat menikmati.
***

“Jingga, kau pasti tahu maksudku kan? Apa kau sudah mencuri tulang rusukku? Jika ya, tolong simpan sejenak, hingga aku menemukan jalan agar kita bersama. Aku tahu selama kita berbeda agama, kita tak akan
bisa bersama, begitukan?”

“Kim Young-Han, tidak usah mempermainkan hatiku ataupun memberi harapan untukku. Jika kau masih berpikir untuk bisa bersamaku dengan masuk Islam, itu akan merusak niatmu. Pelajari Islam yang benar. Jika ada takdirmu yang harus kau jalani bersamaku, niscaya takdir itu tak akan berubah!” Serak, Jingga berusaha menahan tangis, semua rasa bercampur menjadi satu.

Young-Han membisu memandang taksi yang mengantar Jingga. “Ya...jika takdirku ada bersamamu...maka takdir itu akan kupinta untuk bisa bersamamu,” lirih Young-Han

***

Jingga, muslimah asal Indonesia yang mendapatkan kesempatan mengikuti program budaya Korea yang diadakan oleh HUFS (Hankuk University Foreign Studies), di Seoul-Korea Selatan. Jingga berusaha untuk tetap komitmen dengan norma dan nilai yang ia anut, meski di negara yang setengah penduduknya tidak beragama. Tapi di tengah-tengah miskinnya kehidupan Islam di sana, ia malah mendapat pelajaran berharga tentang nilai sebuah kerja keras yang mutlak beriringan dengan doa.

Kim Young-Han, pria sedingin es di kutub. Lulusan Universitas Paris 1 - Pantheon Sorbonne, Prancis, pengalamannya selama di Prancis itulah yang mengenalkan pada ajaran Islam dan awal ketertarikannya terhadap agama tauhid ini. Tapi ketertarikannya kepada Islam selama di Prancis tidak lantas mudah menjadikannya sebagai mualaf. Pulang ke Korea Selatan, ia masih tetap tidak memiliki pegangan agama yang jelas dan kembali menjalani hari-hari beratnya bersama dendam dan kebencian di masa lalu.

Di tanah ginseng itu mereka bertemu, berbenturan karakter tapi juga membuat untaian kisah yang akan banyak menuturkan tentang cinta yang sebenarnya. Akankah pertemuan itu membawa sebuah takdir yang sama dan bermuara pada cinta-Nya? Ataukah hanya sebagai mimpi kilat dan bersitan luka akan takdir yang harus mereka jalani masing-masing. Kisah ini tidak hanya bertutur tentang cinta, tapi juga kasih sayang mendalam antara keluarga, persahabatan, dan mimpi. Karena mimpi memang mutlak untuk terus diperjuangkan.

--------------------
Novel Terbaru Republika " Elang & Bidadari" Karya Puput Sekar.
Harga Rp. 55.000,-

Jumat, 08 Juni 2012

Ini untuk yang ikutan acara trip ke Bromo ya, maaf mau kirim ke email masing2 ribet nyarinya hehe (alasan)
Begini rencana rangkaian perjalanannya:

  1. Jalan dari Jakarta Tgl 30 Juni, sekitar jam tiga sore dari stasiun senen, naik kereta Kertajaya ke Surabaya, estimasi biaya sekitar Rp 50.000, nyampe sekitar jam empat pagi, kita rehat di masjid stasiun (girsl jadi satnite-an di kereta gitchu..hhiiihi) :P
  2. Bada subuh kita Otw ke Bungursih pakai angkot, estimasi biaya Rp 5000, Nanti setelah sampai terminal kita cari bus jurusan Jember, turun di Probolinggo, kalau AC Rp 25.000, kalau Non AC sekitar Rp 15.000 (terserah pilih mana)
  3. Turun di terminal Banyuangga Probolinggo, nak Elf ke desa Cemoro Lawang, biasanya tarifnya Rp 25.000, tapi karna kita turis asing berdoa aja mudah2an enggak dikasih mahal yaaaaa. :)
  4. Siang-siangan kita nyampe di penginapan murah(insya allah lagi diusahain saam om-ku yang tinggal di sana), range harga sekitar Rp25.000-50.000
  5. Kalau mau istirahat silakan, kalau mau eksplore pemandangan di Cemoro Lawang juga ga papa, tapi ingat. pagi sekitar jam tiga dini hari kita akan otw ke bromo untuk liat sunrise :)
  6. Jam tiga dini hari kita  otw ke Pananjakan-Bromo naik jeep, harga sewa sekitar Rp 400.000 nanti dibagi sejumlah orang, sampai saat ini ada sekitar dua belas orang yang masuk ke list.
  7. Di Bromo sampai sekitar jam dua belasan, siang langsung cao ke Surabaya, sebab sore kita udah otw ke Jakarta
  8. Pagi hari sekitar jam delapanan, sampe di Jakarta.

Berikut daftar pribadi yg dihimbau untuk dibawa:
  1. Jaket tebal, secara disana dingin banget, kalau kita kasih gabus mungkin efeknya jadi kaya salju kali yaaa...wkwkwkw
  2. sarung tangan, disana ada sih yang jual, tapi mahal bnaget bisa nyampe Rp 20.000 padahal sarung tangan kuli :D
  3. topi bulu, kupluk or sejenisnya, penghangat kepala
  4. obat2an pribadi, jangan sampe bengek enggak bawa obat, ntar kita bingung lagi,  :)
  5. kaus kaki

Nah untuk makan enggak usah bingung ya, karena di sana harga lumayan nguras kantong jadi kita menyiapkan lauk-lauk2 yang awet. Nanti kita tinggal patungan aja klau udah jadi, dan paling2 kita ntar beli nasi putih aja :)
So yang pada mau ikut tolong fixasi lagi tgl 15, sebab tgl 20 uang tiket sudah masuk dan dikumpulkan pada mbak trini (085880846854) insya allah tgl 23 akan dibelikan tiket.

Berikut koordinatornya :
Transportasi : Mbak Mala dan Mbak Trini Kusmiah (ntar add fb-nya ajah ya)
Akomodasi : Puput
Konsumsi: Fitri Jumiati

Nah begitulah teman. Sampai saat ini peserta terdaftar sekitar ..(ngg berapa ya?) ini daftarnya: chekidot:
  1. Trini Kusmiah
  2. Mala
  3. Fitri Jumiati
  4. Puput Sekar
  5. Niar
  6. Rida Nurfatma
  7. Sri Lestari
  8. Nenty
  9. Ira Setiawati
  10. Lia (dalam konformasi)
  11. Sara Angggraini
  12. Temannya Kak Sara (dalam konformasi)
  13. Tadinya ada Munaa( udah kedepak dia) duiiiiiingggg duuugh...doi mau ke Semeru ciiiing :) ketemu di Bromo katanya :D
Otre, semoga acara trip n tafakur alam kita berjalan dengan sukses ya girls...intinya : Siap capek, susah, dan senang ...iyaaalahh namanya aja backpackeran hihihi dengan dana minim ..otre. dan mohon di tag ke teman masing2 yaaaa  ^^V


(sekedar info, bulan oktober itu ada Festival Krakatau, mungkin Krakatau dan Lampung akan jadi destinasi menarik yng akan kita masukan dalam daftar liburan selanjutnya...So..what a think :) )

Selasa, 05 Juni 2012

Batas Atmosfer


“Ukhti-saudari-Nira apa kabar? Wah, aku suka baca cerpen dan puisimu di majalah Muslimah, tapi kok ABG banget ya? Kenapa enggak angkat cerita tentang perjuangan saudara-saudara kita di Palestina? Lain kali kalau buat cerita itu yang keislamannya kental dong!” ucap Diandra berapi-api.
Diandara, teman kampus, beda jurusan dan fakultas. Jilbab lebar berbodir dua bulan sabit bertolak belakang. Ya Dian memang terlihat makin sejahtera. Anaknya sudah dua, keluarganya makin bahagia. Itu yang tampak pada penglihatanku. Tapi tetap saja Dian yang kukenal dulu, masih sama dengan Dian yang kukenal sekarang. Sama! Sama-sama senang memberikan vonis yang tak seharusnya dia lontarkan. Menyesal aku bertemu dengannya di resepsi Afifah. Aku tersenyum, berusaha tulus. Tapi terlalu munafik rasanya bagiku bisa tersenyum tulus. Aku sudah kecewa dengan orang-orang sepertinya. Yang ada senyum ini tak bertahan lama.
“Well, apapun yang kutulis, kurasa masih dalam koridor keislaman. Makasih sarannya, nanti kupertimbangkan. Dian, pulang dulu ya, aku masih ada acara!” ucapku cepat. Tapi tanpa sadar tangan ini terkepal dengan kuat. Astagfirullah, aku tak boleh membenci orang sesholehah sepertinya. Sholehah? Ah ya tentu saja itu yang terlihat dari luar. Jilbab lebar melambai-lambai, gamis longgar, dan wajah tanpa make up. Yang terakhir sama denganku, tapi jilbab yang kupakai tak seberapa lebar, hanya sebatas terjulur menutupi dada, baju yang tidak ketat, meski tidak bisa dikatakan longgar seperti bajunya. Untuk ukuran penampilan, muslimah sepertiku sedikit modis, kata sebagian orang di sana. Tapi lihat Diandra, penampilannya saja jauuh dari kesan modis. Rapi dan bersahaja. Tapi? Mulutnya? Mengapa selalu mengatakan sesuatu yang tak enak terdengar oleh telinga. Begitukah perilaku wanita sholehah?
Cepat kuberhentikan taksi dari depan gedung resepsi. Hari ini bertemu dengan banyak kawan lama. Reaksi mereka beragam, ada yang menyambut baik, tapi ada juga yang menyambut kurang mengenakkan, salah satunya ya Diandra tadi. Ibu dua orang anak. Mulanya dia menyapaku, menanyakan kabarku, parahnya menanyakan statusku yang masih adem-ayem menikmati masa lajang. Dia bahkan memberika sedikit kutum-kuliah terserah antum(kamu), sebab memang tanpa kuminta sesuka hati saja dia memberikan percikan kuliah kepadaku yang masih melajang. Intinya, tak baik menunda-nunda urusan ibadah. Jadi harus disegerakan. Pikirku, memang siapa yang menunda-nunda? Sampai akhirnya dia mengkritisi penampilanku yang tampak modis. Berubah! Itu katanya. Padahal menurutku, yang kukenakan ini masih dalam batasan sesuai Islam agamaku. Bukan hanya agamanya saja. Karyaku juga tak lepas dari kritik pedasnya. Ya seperti yang dia katakan tadi, terlalu ABG, picisan, keislamannya kurang kental, hanya menyentuh remaja, padahal remaja juga harus tahu bahwa di bumi Palestina sana umat Islam terluka. Aku sepakat, tapi tak begitu. Kalau dia bisa, coba saja dia buat duluan, nanti aku tiru. Dulu waktu masih kuliah juga Diandra pernah mengkritisi buku yang kubaca. “Hari gini masih baca novel? Masih jaman?” tajam dan menukik kata-katanya, menyayat telingaku. Tapi enteng dan ringan sekali dia mengatakan itu, tanpa butuh jawabanku, dia masuk saja ke mushola fakultas, untuk sholat zuhur. Aku hanya bisa mengelus dada. Memangnya kenapa dengan membaca novel? Sekali lagi, toh yang kubaca bukan novel porno! Diandra, satu muslimah yang telah membuatku kecewa. Dan ternyata, di luar sana ada banyak sosok seperti Diandra yang juga membuat hati ini harus kebal dengan perilaku buruk mereka. kadang kuberpikir, mereka manusia juga, bukan malaikat.
Kali kedua pasca kampus, aku kembali dikecewakan dengan perilaku seorang teman. Dia dari salah satu komunitas yang awalnya kupikir baik. Menegakkan yang hak dan yang batil. Orang yang cukup terpandang dan disegani di kalangan kami. Tapi nyatanya? Perih untuk diingat, tapi terpaksa memory ini harus kembali mengingat. Waktu itu aku jaga di posko bencana alam, saat kebanjiran. Bapak bersahaja itu mendatangiku, mengatakan bahwa aku harus selektif untuk memberi bantuan, sebab dari golongan”kami” ada banyak juga yang terkena musibah, “mereka” harus diprioritaskan. Sadis! Ini bencana alam, mengapa harus memilih-milih untuk membantu teman. Kuelus dada, kok begitu.
Selanjutnya di lain waktu, ada seorang teman yang menawarkan pekerjaan untukku, aku tolak dengan halus. Alasannya, aku juga sudah bekerja, kemudian ada temanku yang begitu membutuhkannya, tapi dia bertanya, Apa temanmu dari golongan “kita”? aku jawab bukan. Maka dengan berkelit dia menolak. Suruh saja cari pekerjaan di tempat lain, itu katanya. Aku menggigit bibir, Ya Allah..mengapa dengan mudah”mereka” mengkotak-kotakkan seperti itu? Ah, jika dilist banyaklah perilaku yang tak pantas dilakukan oleh”mereka”, nyatanya di kantor, aku pernah difitnah juga oleh orang yang kupikir sama sepertiku, dia berjilbab rapi, kata-katanya begitu halus dan lembut, tak ada yang menyangka dia suka lain bicara. Di sana beda-Di sini beda, asalkan dia senang.
Dan kali ini mereka juga berkata aku sudah jauh berubah, mulai menyukai film, lagu yang tak seharusnya dinyanyikan. Memangnya mereka tahu tentangku? Hanya dari film dan lagu mereka dengan mudah memvonis keimananku? Memvonis bahwa aku sudah tak tergabung lagi dalam komunitas mereka. Tak peduli komunitas apa, toh aku masih muslim, Insya Allah tetap muslim sampai akhir hayat. Yang menegakkan sholat, tidak menyekutukan Allah, dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusannya. Mereka tak perlu tahu, cerita yang kutulis memang ringan, berbau cinta dan remaja, tapi itulah pesan yang paling mudah disampaikan untuk remaja. Mereka juga umat, yang harus terkena percikan pengingat. Terserah, aku dikatakan sudah tak tergabung dalam komunitas, memangnya mereka tahu apa yang kulakukan? Padahal mereka juga tidak pernah bertemu fisik denganku, kecuali di resepsi ini. Mereka menilaiku hanya karena dari situs jejaring social, saat aku membagi aktivitasku yang aneh-aneh, padahal bisa saja bukan sebenarnya. Aku seorang penulis, apa saja bisa kutuliskan. Tapi dengan mudah mereka mengetuk palu, memvonis dengan keras. Mengatakan aku sudah banyak berubah.
Ah, “mereka” mengecewakan! Lihat saja, waktu itu seniorku sakit keras, liver selama tiga bulan, tapi apa yang ia dapat? Senioirku itu sama sekali tak dijenguk oleh “petingginya” bahkan mengatakan semoga lekas sembuh saja tidak. Lagi-lagi aku geram. Mereka selalu menganggap diri mereka berbeda, merasa baikkah? Atau paling benarkah? Entah aku tak tahu. Tapi yang pasti kelakuan mereka sama sekali tidak bisa dijadikan teladan. Aku juga tidak menggeneralisir, tidak. Di antara mereka juga ada orang sholeh yang benar-benar sholeh. Yang tidak hanya kesholehan secara vertikal, tapi juga sholeh secara sosial. Tapi yang muncul kepermukaan sayangnya adalah orang-orang yang perilakunya tampak baik dari permukaan. Bibirnya begitu mudah berbicara tentang nilai-nilai kebaikan, tapi aplikasinya? Jauh dari sikap professional, kebaikankah itu?
Aaaah, berbicara tentang “mereka” tak akan pernah ada habisnya. Tapi yang jelas, apapun yang mereka tuduhkan padaku, yang mereka voniskan padaku, tak akan menyurutkan langkahku untuk tetap bergerak, meski kata mereka aku tak tergabung dalam komunitas. Itu kan katanya, tapi menurutku, aku masih bergerak menyerukan kebaikan bersama ribuan tentara Allah yang lain, yang tak lagi sesumbar dengan banyak embel-embel sebutan ini-itu, yang tak resah meski telah dianggap tidak masuk dalam komunitas. Sebab Allah Ghoyatuna.
“Mbak sudah sampai,” tiba-tiba supir taksi merobek lamunanku. Aku tersenyum, sambil memberikan dua lembar lima puluh ribuan. Sesuai dengan yang terlihat pada argo di dashboard mobil.
Dan kulangkahkan kaki menuju gedung bertingkat tujuh belas. Ada banyak puluhan orang berbeda bangsa dan agama di dalam sana. Kini saatnya kutunjukkan eksistentensiku sebagai seorang muslimah. Muslimah Indonesia.
***

Jumat, 01 Juni 2012

Indonesia Negara Apa?

 Jadi Indonesia negara apa? Negara berbasis Pancasila? Sila ke berapa? Bahkan dari sila pertama sampai lima saja sekarang samar-samar  di Indonesia. 
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Esa, berarti tidak menyekutukan Tuhan. Esa, satu. Tiada Tuhan Selain Allah, Laaaillahaillaha ..... Tapi mana yang mengesakan? Indonesia negara mistis, carut marut bidah, tahayul dan khurafat mewarnai kehidupan. Contoh kecil, mau ujian nasional saja pakai ritual mandi kembang. Lalu di mana letak Keesaan Tuhan? Sinkretisme (pencampuadukkan agama) terjadi di mana-mana. Budaya yang mengarah pada ritual kemusyrikan menjadi aroma menyengat di penjuru pelosok negeri, atas nama PELESTARIAN BUDAYA.
Sila Kedua: Kemanuasiaan Yang Adil dan Beradab. Apanya yang beradab? berbagai macam penembakan liar, pengeroyokan terhadap massa tertentu, saling bantai, mutilasi, bukankah itu semua yang menjadi perbincangan hangat media sehari-hari? Media kita lebih senang dengan mengekspos berita kriminal dan berita kebiadaban yang dilakukan anak bangsa.  Maka terkenalah Indonesia ke dunia Internasional, bahwa Indonesia adalah negara pelanggar HAM. Luar biasa, padahal awak media, sebagian besar berkebangsaan Indonesia, tapi merekalah yang mengkspor berita itu. Dari situ membuat kita miris, kitakah bangsa yang beradab? Adil? sebauh keadilan kah jika ada WNA yang kedapatan membawa kurang lebih empat kilogram narkotika, maka mendapat grasi dari presiden? Sebuah keadailankah jika ternyata orang yang mencuri satu buah semangka dijatuhi hukuman kurungan? keadilan kah jika ternyata seorang koruptor yang sudah merugikan keuangan bangsa hanya dijatuhi hukuman penjara paling lama hanya lima tahun penjara. Lalu di mana letak keadilan?
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia? persatuan yang mana? nyatanya kita negara yang mudah terprovokasi, kita bukan negara yang dewasa dalam menghadapi sebuah konflik. Dipicu saja dengan isu antar agama, atau antar suku, maka nyalanya bagai api kecil yang terpelantik di pom bensin. Atas nama kesatuan dan persatuan yang mana? Isu toleransi yangs edang menghangat, malah bias. Toleransi yang artinya saling menghargai berubah menjadi saling merasa benar sendiri, merasa benar dengan pendapat yang hanya disertakan emosi pribadi. Perdebatan agama yang makin tak beruujung dan menimbulkan konflik berkepanjangan.
-to be countineud)

Jumat, 25 Mei 2012

Karst Pembatas


“Serius ni Vins lu enggak ikutan liburan ke Bali? Plesiran-refreshing-surfing. Ayolah Bung, Banyuwangi-Bali itu deket. Lu jangan terlalu workaholic gitu lah!” teriakan Mas Endri dengan logat Jawa Timurnya yang masih kental. Tapi berhubung dia sudah lama tinggal di Jakarta, maka sok-sok an ngomong bahasa pasarnya Jakarta yang kedengeran aneh.
            Apa sih Mas Endri. Aku masih ada kerjaan yang tak bisa diwakilkan siapa-siapa. Siapa juga yang sudah menugaskanku untuk melakukan tugas penelitian ini? Toh dia sendiri kan yang menugaskannya padaku. Sekarang malah ngerayu-rayu untuk ikutan plesiran, emang gampang? Alasannya sih kondangan ke tempatnya Devi, tapi ujungnya? Foya-foya di Bali, aku tidak terlalu suka dengan hingar-bingar Bali. Apapun itu.
            “Vins woooy! Serius banget!” teriak Mas Endri yang sedari tadi belum kutanggapi, ia  menepuk bahuku. Kesal mungkin. Aku masih bergeming di layar empat belas inch ini untuk merapikan instrument penelitian.
            “Iyaa gue denger, pastinya gue dateng di resepsinya Devi, tapi cuma sehari, eh enggak deng cuma beberapa jam aja, entar langsung cao ke Baluran dan lanjut ke Meru Betiri terus keliling Banyuwangi. Sorry Bro gue enggak ikutan plesirannya. Kalau sekedar buat surfing aja, pantai Plengkung itu enggak kalah keren Mas buat surfing!”
            “Ah enggak asik lu! Kan cuma sehari aja. Bahkan gue yang kasih ijin lu untuk sehari aja enggak penelitian,” nada Mas Endri mulai memaksa. Aku kenal sekali sama Mas Endri, dia baik, solidaritasnya tinggi, tapi bukan pemimpin yang benar. Maunya anak buahnya semua ikutan happy, tak terkecuali aku. Tapi ah, Big Brother ini enggak pernah ngerti sama kebiasaanku. Aku paling tidak suka dengan suasana hingar-bingar Bali. Apalagi kalau jalan sama mereka pastinya pada foya-foya, hura-hura. Terserah mereka bilang aku sok seriuslah, workaholic, atau apapun, sebab bagaimana mungkin berada di lingkungan yang tak membuatku nyaman.
            “Terserah deh Mas. Tapi gue emang enggak mau molor waktu, soalnya pasca penelitian ini gue langsung cabut ke Eiger. Lo pasti masih inget perijinan gue itu kan? Eiger itu liburan gue yang sebenarnya.”
            Mas Endri menyerah kalah, lalu menepu-nepuk bahuku. “Ya udahlah terserah lu Vins, lu mah emang keras kepala.Tapi sesaat kemudian Mas Endri nyengir-nyengir enggak jelas, sambil mengarahkan telunjuknya kepadaku,  “ah, gue tebak jangan-jangan lu ke Eiger buat ketemuan sama si Stefani? Bagus-bagus deh, siapa tahu emang dia jodoh lu!”
            “Yaahh elo Mas ujungnya ke sana, bukan gitu maksud gue..,” dan aku tak bisa meneruskan klarifikasi lagi, Mas Endri sudah keburu menghambur keluar ruangan, sebelumnya sempat mengerlingkan mata menggodaku. Ah, salah sangka lagi. Gini nasib jomblo, apa-apa dicurigai. Tiga puluh satu tahun sudah hidup membujang, ada saja celotehan tak sedap yang meluncur ke telinga ini. Apalagi Mas Endri, orang itu suka asal bicara saja. Dulu ia pernah mengataiku Maho- hiyy..gila, manusia homo! Memang siapa yang homo? Aku dikatakan homo hanya karena menolak untuk dijodohkan dengan gadis Bali, teman Devi. aku sama sekali tak ada feelling sama Dian Ayu, temannya Devi itu. Tapi bukan berarti Maho! Sekarang malah Stefani dibawa-bawa.
Ah..ya Stefani, gadis Jerman yang pernah berkenalan denganku dan Mas Endri di Munich, saat kami menghadiri Enviromental Summit setahun yang lalu. Sejak itu kami memang sering berkirim surat elektronik padanya. Mencintainya? Entahlah..bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Iya, karena Stefani cantik, cerdas, tapi sederhana. Terlalu munafik rasanya jika seorang pria tak menyukainya. Stefani Estefan Luhr, bukan penganut katholik, tapi protestan. Itu bagus. Prinsipku jelas, mencari istri harus yang seiman. Tapi bisa jadi bukan dia orangnya, sebab aku juga belum yakin seratus persen dengan perasaanku padanya. Mengingat ada jarak ribuan mill di antara kami. Juga aku belum banyak melakukan pendekatan kepadanya. Butuh waktu memang dan kepercayaan ekstra untuk meyakinkan hati ini. Dan memang benar tebakan Mas Endri pada saat pendakian nanti memang Stefani berencana ikut bersamaku. Tapi bukan berarti juga Mas Endri bisa usil menggodaku. Tapi ya sudahlah, biar dia seneng. Mungkin dia puas kalau sudah berhasil membuat wakjahku memerah. Dan memang aku tak pernah bisa marah atau pun merajuk padanya, di mataku dia pemimpin yang luar biasa. Luar biasa sinting maksudnya. Jarang-jarang punya bos yang otaknya setengah miring kaya Mas Endri. Mungkin karena kebanyakan ilmu, atau memang bawaan lahir. Bodo amat ah! Persetan dengan semuanya. Yang ada dalam kepalaku kini adalah Africa Van Java i am coming.

Selasa, 10 Januari 2012

Its All About School (Alasan Murid Suka Keluar-Masuk Kelas Saat Pergantian Jam)

Sebagai orang yang nyemplung di sekolahan, setiap hari saya ngadepin banyak karakter siswa. Gampang-gampang susah sih, hehe. Paling sebel kalau pas jadi guru piket harus menghadapi kenyataan banyak siswa yang bolak-balik ke kamar mandi saat pergantian jam (alasan mereka sih) eh...ternyata tuh bocah-bocah malah nongkrong di kantin. Marah? ya kadang sih. Kesel? emmm...emmm sedikit. Eits, ntar dulu jangan marah dulu, bisa jadi kebiasaan mereka keluar masuk itu karena banyak hal. Lihat nih alasan para calon-calon intelektual kenapa mereka suka mondar-mandir keluar kelas saat pergantian jam. Chekidot!
  1. Laper dan Haus. Nih alasan mereka yang sebenernya. Laper! salahnya enggak sarapan pagi. Lagian lucunya mereka memang paling enggak bisa nahan nafsu. Nafsu makan gitu, pengennya tuh kalo lepra alias laper maunya diikutin aja. Haus...ini juga aneh, kenapa enggak bawa minum dari rumah, taruh di tempat minum, so enggak mesti bolak-balik kantin kan?
  2. Bosen sama ruangan kelas yang itu-itu aja, Nah ini nih, kadang murid mungkin bosen, belajaaaar mulu di ruang kelas, jadi doi agak bosen. Sayangnya metode sekolah di Indonesia itu masih kebanyakan belajar di ruangan. Sebenernya bukan cuma murid lho yang pengen banget belajar di taman sekolah, di bawah pohon rindang, model-model anak-anak laskar pelangi. Tapi sayangnya lahan terbatas :( Enggak semua sekolah punya lahan yang luas ternyata. Alhasil suka enggak suka yah bertahan aja gitu selama 8 jam di ruangan yang terbatas.
  3. Liat gebetan. Ini ya, diem-diem alasannya mereka, hayooo ngaku! Siapa tahu gitu kalau pas keluar doi bisa ketemu gebetannya yang juga lagi keluar kelas. Atau minimal ngelongok ke ruang kelasnya aja udah bikin deg-degan gimanaaaaa getooh. Hehehe, jadi sengaja tuh keluar-keluar berharap ketemu, kan rasanya adeeeemm, nyessss kaya kesiram salju di musim panas. (Yaaaaa kan ngaku aja ^_*)
  4. Bosen sama gurunya. Ini dia yang bahaya. Bosen sama gurunya, enggak suka sama gurunya sering jadi alasan bagi para pencari ilmu untuk keluar ruangan. Pak/Bu izin mau ke toilet, jiaaaaahhhh giliran di toilet sengaja dilama-lamain. Jadi kan lumayan bisa diskon waktu pelajaran. Ih ternyata murid juga bisa korupsi waktu ya? MALUUUUU DOOONG!
  5. Takut disuruh maju ke papan tulis, jadi sengaja melarikan diri. Kalau pelajara eksak nih biasanya. Pas bagian gurunya lagi lirak-lirik murid untuk nyuruh maju ke depan, eh ada beberapa anak nih yang emang enggak bisa, plus enggak ngerjain tugasnya pula. Lalu sengaja deh pake trik lama-yaeelah triknya jadul ah- Pura-pura izin keluar ruangan. Kira-kira beberapa menit, soalnya udah habis gitu, baru deh balik lagi ke kelas. Eng..Ing Eng..INI JUGA SIKAP PENGECUT! Sorakiiiiin Huuuuuu.
  6. Cari perhatian guru. Nah ternyata ada juga lho yang niat caper sama guru. Soale di rumah doi enggak dapet perhatian dari ortu. Kan bisa jadi nih ada guru yang jadi idola para cowok or cewek, biasanya guru yang ganteng atau cantik. Terus sengaja deh tu bocah cari masalah, biar bisa diomelin-padahal ujung-ujungnya mah cari perhatian gitu. Ehmmm...
  7. Emang niat cari masalah. Nah ini yang minta di gaplok ya. emang niat cari masalah. Berasa jadi jagoan kelas kali. Ngerasa sanggup menghadapi kemarahan guru, atau emang niat biar gurunya emosi. Parahnya kalau gurunya marah, ini biang masalah akan lebih galak dari gurunya. Nanti giliran dibentak, si anak songong ini akan bilang "Ibu saya aja enggak pernah bentak-bentak saya!" Nah kalau tipe murid kaya gini nih, songong bin aneh. hati-hati lho, kalau niatnya selalu cari masalah hanya karena alasan sedang mencari jati diri, dijamin deh! Dijamin masa depannya suram. Lho kok suram? Ya iyalah gimana enggak suram coba? wong udah punya attitude yang enggak bagus. Bisa sih enggak suram, syaratnya yaaaa taubatan nasuha!
Nah mungkin segini dulu catatan hari ini. Lain waktu kita lanjutkan lagi untuk bongkar-bongkar rahasia sekolahan. ^_^ V Good Luck.


Jumat, 25 November 2011

Guru Itu...???

"Di kelas .. kutulis nasib seorang guru, mengajar banyak ilmu hingga kini aku banyak tahu.
Sanggup kah menjadi guru honor seminnggu hanya sampai rabu...."  (Padhayangan Project- Nasib Seorang Guru)

Well, tadi hanya penggalan lagu parodi dari sebuah grup terkenal era sembilan puluhan, tapi sekarang saya sedang tidak mengulas musik dan apapun tentang grup tersebut. Sekarang mari bicara ringan tentang hari ini. Hari Jumat? Bukan lah, tapi Hari Guru / Teacher's Day. Tanggal 25 November. 
Tidak akan ada presiden, mentri, pejabat, profesor, ilmuwan hebat, peneliti pintar, artis top, pejabat, tekhnokrat keren, dokter, pilot, pengacara, hakim sampe hakim garis...(hihiii..kok jadi ke sepak bola) yup apapun profesinya, guru lah pahlawannya. Emm...bukan karena saya juga berprofesi yang kata orang juga guru lho, jadi belain guru (saya belum jadi guru) 
Guru itu katanya akronim dari diGugu dan ditiRu, bener enggak sih? kalau bener berarti berat banget dong ya? Digugu, waduh kalau menurut KBBI digugu itu artinya dipercaya, bisa juga mengarah pada diindahkan. Well, dipercaya? waduh berat lagi-lagi berat yah dipercaya, berarti guru itu harus dipercaya ya? kata-katanya bisa dipegang, enggak menle-menle (baca: plin-plan), apalagi sekarang ada pendidikan berbasis karakter, nah gimana mungkin nih si guru kalau mau masukin pendidikan karakter kalau gurunya masih belum tahu karakter, kalau gurunya aja enggak bisa dipercaya (adduuuh maaf, bukan memvonis guru ini ya).
Nah yang kedua ditiRu, berarti dicontoh, diikuti, dijiplak. Guru itu model untuk semua murid-muridnya, sifatnya, karakternya, gayanya, bahkan kadang model bajunya (apaan sih?) hehehe, nah berarti semua yang harus dilakukan guru memang menjadi teladan bagi siswanya. 
Kalau gurunya suka galak, ngebentak, marah tanpa alasan, yaaa muridnya juga begitu nantinya. Gurunya suka mukul, ya muridnya ikutan suka tawuran, gurunya suka ngerumpi/ ngegosip, ngomongin orang, adu domba, yaaaa jangan heran kalau muridnya juga punya karakter begitu, mungkin tidak sekarang, tapi kelak dikemudian hari. Atau bahkan sudah terlihat hasil didikan hari kemarin, hari ini dimana banyak para pejabat tanpa malu korupsi, tak tanggung-tanggung dana pendidikan juga ikutan dikorupsi, (eemm..maaf lagi kalau jadi emosi).  
Mari kita bermimpi, semua guru di Indonesia, penyayang dengan siswanya tanpa tedeng aling-aling, maksudnya tanpa tendensius apapun. Maka semua siswa di negara ini juga akan memiliki karakter penyayang. Semua guru di Indonesia menjunjung tinggi kejujuran, maka semua rakyat di negeri ini akan menjadi rakyat yang jujur. Bukankah semua berawal dari guru? 
Entahlah, tapi yang pasti salam hormat saya berikan kepada semua guru-guru saya, dan guru yang bisa dijadika teladan sepanjang jaman, Nabi Muhammad SAW, guru sebenarnya :)









Ketika Sulit Mengelola Ide

Malam ini saya hanya sekedar berbagi  ringan tentang permasalahan ide. Tulisan ini didasari oleh pengalaman pribadi yang bertahun-tahun...